Gambar

Teruslah Bersama, Untuk Perubahan

rahmat rijalun design bupati dan wakil bupati kabupaten biak numfor provinai papua

Iklan

Kartu Ucapan Idul Fitri 1433H Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor

Alhamdulillah…

Idul Fitri tahun ini (1433H/2012M), kami kembali dipercayakan untuk memberi torehan kesan tersendiri dalam  memberikan warna tersendiri guna memfasilitasi pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Biak Numfor (Bupati dan Wakil Bupati) untuk menyampaikan Ucapan Idul Fitri kepada Saudara(i) kita yang merayakannya dalam bentuk Kartu Ucapan Idul Fitri

terima kasih atas kepercayaannya….

Selamat Atas Terpilihnya Jusuf Melianus Maryen, S. Sos, MM & Drs. Alimuddin Sabe sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Biak Numfor – Papua Periode 2009 – 2014

Akhirnya….

Setelah melewati berbagai macam proses menuju kursi jabatan Nomor 1 & 2

di Kabupaten Biak Numfor Papua, setelah beragam lapisan masyarakat Kota Karang Panas melakukan PILKADA pertama kalinya Bupati dan Wakil Bupati di pilih secara langsung oleh Rakyat, maka akhirnya Kaupaten peraih ADIPURA Kota Terkecil Terbersih Seluruh Indonesia ini memilih Pasangan yang di usung oleh Partai Golkar dan Partai Keadilan dan Persatuan melalui Koalisi Pagar Keadilan.

Kami segenap Pimpinan dan Team

RAHMAT RIJALUN COMPUTER CLINIC

Mengucapkan

SELAMAT DAN SUKSES

ATAS TERPILIHNYA

Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten BIak Numfor Periode 2009-2014

Jusuf Melianus Maryen, S. Sos, MM & Drs. Alimuddin Sabe

SEBAGAI BUPATI & WAKIL BUPATI KABUPATEN BIAK NUMFOR

PERIODE 2009 – 2014

Semoga sgala harapan rakyat dapat terealisasi

dengan tidak hanya mengedepankan kekuasaan dan jabatan semata

namun hanya berbekal Restu Tuhan Yang Maha Kuasa

Amin……

Bah….! Tete, Nene, Bapa, Mama, Om, Tanta, Kaka, Ade, Famili, Saudara semuanya… PILKADA BIAK NANTI JANGAN LUPA COBLOS E…..

28 OKTOBER 2008


INGAT……

PILIHAN KITORANG

AKAN MENENTUKAN BAGAIMANA BIAK

LIMA TAHUN MENDATANG

JANGAN GOLPUT

GUNAKAN KITORANG PU HAK PILIH E…..

BETUL KA TRADA ?

Hari ini saya coba mencari bahan tulisan untuk untuk melengkapi beberapa artikel di Blog nilik saya yang baru saya buat untuk ikut membantu beberapa pihak di Kabupaten Biak Numfor Papua Tercinta dalam mengabari seluruh khalayak di Kabupaten ini serta mereka-mereka orang asli daerah ini yang mungkin saja saat ini berada di luar daerah Kabupaten Biak Numfor tentang pelaksanaan PILKADA yang mudah-mudahan bila diberkati oleh TUHAN, akan dilaksanakan tepat tanggal 29 Oktober 2008 .

Pada saat mencari-cari berita tentang itu di beberapa sumber terkait, saya kaget dengan salah satu berita dari sebuah media yang mengankat sebuah topik pembicaraan dengan judul GOLPUT ADALAH TINDAKAN MAKAR. Saya mencoba memikirkan pernyataan yang menurut saya SALAH tersebut.
Menurut saya, ini adalah SESAT PEMIKIRAN PARA POLITISI KOTOR yang dapat berpengaruh terhadap pendidikan politik di Kabupaten Biak Numfor pada khususnya dan PAPUA pada umumnya.
Mengapa dikatakan sesat pikir? Mari kita uji pernyataan itu (harusnya tiap pernyataan dapat diuji, apalagi yang seperti ini).
GOLPUT adalah singkatan dari Golongan Putih, artinya mereka yang memiliki hak pilih (Hak pilih = hak politik yang dimiliki oleh WNI, sudah berumur 17 tahun atau sudah menikah untuk memilih dan/atau dipilih dalam jabatan politik) tetapi tidak menggunakan haknya itu. sedangkan MAKAR merupakan sebuah Istilah yang dulunya jarang digunakan. Pada masa Soeharto, istilah yang digunakan adalah SUBVERSIF(= tindakan-tindakan dari bawah yang bertentangan dengan kebijakan-kebijakan bahkan bertujuan meruntuhkan yang di atas). Soal makar sendiri memang diatur dalam KUHP. Sedikitnya ada delapan pasal yang berkaitan langsung maupun tidak langsung tentang itu. Pasal 107 KUHP misalnya, mengatur tentang aksi makar yang bermaksud menggulingkan pemerintahan. Ayat (2) Butir 1 pada Pasal 110 menguraikan soal permufakatan jahat. Ancaman hukuman bagi pelaku makar sendiri terbilang berat. Mulai dari sanksi penjara 15 tahun hingga pidana mati. Menurut Loebby Loqman, Guru Besar Fakultas Hukum UI, “Masalahnya adalah, semua pasal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi pengalihan kekuasaan secara inkonstitusional”. (lihat)
Pertanyaannya adalah apakah masyarakat yang GOLPUT (tidak menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan umum) itu dapat dikategorikan sebagai tindakan MAKAR?
Bila disusun skema pemikiran dari pernyataan tersebut.

Tidak Menggunakan
Hak Pilihnya
GOLPUT——————–> MAKAR

Kesimpulan yang ditarik dari GOLPUT adalah salah satu kategori MAKAR. Apakah kesimpulan itu tepat?
Penjelasan tentang makar telah disampaikan di atas. Pasal 87 KUHP menyebutkan, sebuah perbuatan dapat dikatakan sebagai makar apabila niat untuk itu telah terlihat dari adanya permulaan pelaksanaan. Bagi saya, masalahnya adalah sulit mengukur niat karena hal itu bersifat abstrak dan luas.
Apakah tidak pergi ke TPS itu merupakan permulaan pelaksanaan dari tindakan makar atau upaya pengalihan kekuasaan secara inkonstitusional tadi? Tidaklah demikian. Dulu pada masa Soeharto, di mana GOLKAR memegang peranan penting dalam perpolitikan nasional, mana ada yang berani GOLPUT. Pemerintah dapat memaksa masyarakat lewat alat-alat negara untuk menggunakan hak pilihnya. Masyarakat tidak bebas untuk menetukan pilihannya. Toh “Memilih untuk tidak memilih itu juga pilihan” (coba diuji, apakah pernyataan ini juga sesat pikir?). Alasan bahwa GOLPUT tidak menggunakan hak pilihnya sebagaimana diwajibkan oleh institusi tidak terlalu kuat untuk mengkategorikan GOLPUT sebagai MAKAR.
Jadi menurut saya, para politisi seharusnya berpikir sebelum berbicara dan menyimpulkan hal-hal tidak berdasar seperti ini.
Anehnya lagi, Megawati Soekarno Putri juga menegaskan bahwa “Golput semestinya tidak boleh menjadi warga negara indonesia”. (lihat) Terus para GOLPUT mau jadi warga negara mana bu? Identitas sebagai warga negara tidak dapat diukur dan ditentukan oleh keikutsertaan memilih salah satu calon atau salah satu partai politik.
Menurut saya, pernyataan-pernyataan ini adalah sesat pikir para politisi kita yang menghendaki suara terbanyak dan hanya suara yang dipedulikan, bukan yang lain. Bisa berbahaya para politisi yang asal menuduh seperti ini.
Nah, bila GOLPUT itu makar, gimana cara memberikan sanksi pidananya….?????

Sa jadi bingung…..!!!!!