Bukhari dan Sejuta Hadits di Kepalanya

Imam Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu al-Mughirah al- Bukhari yang kemudian dikenal dengan nama Imam Bukhari, sejak lahir seakan sudah dipersiapkan untuk menjadi ahli hadits dan fiqh ternama. Ia menjadi pengumpul hadits shahih terbesar dengan kemampuannya menghafal 100 ribu hadits shahih dan 200 ribu hadits tidak shahih. Ia adalah seorang perintis dan pengembang lebih jauh tentang penyusunan kitab hadits, yang dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan ummat manusia. Hasil kerja ilmiahnya itu, dibukukan ke dalam sebuah kitabnya yang sangat terkenal dan monumental, yang diberinya judul Al-Jami’ ash-Shahih, yang di kalangan ummat Islam menduduki ranking kedua setelah Kitabullah.

Tatkala menyusun kitab shahih yang populer dengan dengan Kitab Shahih Bukhari itu, di dalam memori pikiran Imam Bukhari telah tersimpan satu juta hadits dari delapan puluh ribu rawi. Dari jumlah itu, 7.275 buah hadits saja yang dianggapnya shahih, termasuk banyak hadits yang diulang- ulang dari berbagai bab yang terdapat dalam kitab tersebut. Sedang untuk kitab shahih-nya ia memilih 9.082 hadits yang ditulisnya dalam waktu 16 tahun. Semuanya itu ia lakukan selama masa pengembaraannya di negeri orang. Dikatakan oleh KH. Jamil Akhmad dalam bukunya Hundred Great Muslims, “Sebagian terbesar tulisan Imam Bukhari yang terdapat dalam kitab Jami’us Shahih, penulisannya dikerjakan di samping makam Rasulullah saw di Madinah dalam kondisi suci dari najis.”

Sebagai seorang ahli hadits, reputasi kepakaran dan kealimannya belum tertandingi oleh siapa pun sampai saat ini. Betapa tidak, pada umur kurang dari sepuluh tahun ia sudah menghafalkan hadits. Pada umur sebelas tahun ia telah sanggup mengoreksi kesalahan sanad hadits. Dan dalam umur enam belas tahun ia telah hafal beberapa buah kitab hadits karangan Ibnu al-Mubarak dan karangan Waqi’.

Imam Bukhari dilahirkan pada 13 Syawal 194 H/816 M, di Bukhara. Masa balitanya dilaluinya dengan penderitaan yang sangat memilukan hati kedua orang tuanya, disebabkan buah hatinya mengalami kebutaan total. Namun, permohonan ayah dan ibunya dikabulkan oleh Allah, setelah sebelumnya ibu Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim as, yang dalam mimpinya mengatakan, “Doamu dikabulkan oleh Allah swt.” Dan ternyata benar, Bukhari sembuh total dari penderitaan kebutaan pada keesokan harinya.

Setelah memasuki usia remaja tepatnya pada usia 16 tahun bersama ibu dan abang sulungnya, Rasyid Ibnu Ismail, Bukhari mengunjungi berbagai kota suci terutama Makkah dan Madinah. Dua tahun belajar di dua kota tersebut, ia telah mampu menyelesaikan tulisannya yang berjudul Qadaaya ash-Shahaabat wa at-Taabi’iin. Lalu mulailah ia melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mempelajari ilmu hadits dengan mendatangi beberapa pakar hadits di beberapa negara di timur tengah. Ia telah mengunjungi Iraq, Khurasan, Syria, dan Mesir untuk memperdalam kepakarannya.

Mengenai kecerdasan dan kemampuan menghafal Imam Bukhari, banyak pakar hadits yang memberikan kesaksian, di antaranya Ibnu Khuzaimah (w. 311 H). Katanya, “Saya tidak tahu jikalau ada di bawah langit Allah ini orang yang paling alim dengan hadits Rasulullah selain al-Imam al-Bukhari.” Bahkan ada seorang tokoh yang kesohor, yang sangat mengaguminya yaitu Imam Muslim Ibnu al-Hajjaj (204-261 H) yang mengatakan pujiannya itu langsung kepada Imam Bukhari, “Biarkanlah aku cium dua kakimu wahai guru dari segala guru dan tokoh dari segala ahli hadits.”

Ketenaran Imam Bukhari segera mencapai bagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu dielu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatannya yang luar biasa. Banyak cendekiawan dan orang shalih dari seluruh dunia menjadi muridnya. Termasuk di antaranya Sheikh Abu Zarah Abu Hatim Tarmizi, Muhammad Ibnu Nasr, Ibnu Hazima, dan Imam Muslim.

Di samping terkenal sebagai Imam al-Muhaddisiin, ia juga terkenal sebagai seorang ahli hukum fikih dan sebagai mujtahid. Bahkan ia juga pernah menulis kitab tafsir At- Tafsir al-Kabiir dan kitab sejarah at-Taariikh al-Kabiir.

Untuk mengembangkan keahliannya di bidang hadits, Imam Bukhari menyempatkan diri hijrah untuk beberapa lama dan tinggal di Bagdad. Selama di Bagdad waktunya dihabiskan untuk mempelajari hadits dan bersilaturrahim kepada ulama-ulama ahli hadits. Inilah awal namanya dikenal di kalangan pakar hadits di luar kampung halamannya.

Apalagi setelah ia dianggap ‘lulus’ dari ujian yang mereka lakukan. Suatu saat ulama-ulama ahli hadits di kota itu mengundang Imam Bukhari dalam suatu acara temu ilmiah yang khusus membahas ilmu-ilmu hadits. Dalam pertemuan tersebut ada sekelompok pakar hadits yang meminta kepada Bukhari menyusun kembali seratus hadits yang telah diacak baik sanad maupun matan-nya. Ternyata Bukhari memang ahli di bidangnya, ke-seratus hadits tersebut mampu disusunnya kembali tanpa ada kesalahan satu pun.

Merasa cukup mempelajari ilmu hadits, Imam Bukhari pulang kampung. Tak pelak kehadirannya mendapatkan sambutan yang luar biasa. Tidak hanya masyarakat awam, tapi gubernur Khalid bin Ahmad pun menyambutnya dengan gembira. Saking kagumnya gubernur berhasrat mengundang sang Imam agar mau memberikan pelajaran privat kepada putra-putranya di kediaman gubernur. Namun Imam Bukhari yang dikenal sangat pendiam, pemalu, pemberani, tawadlu’, dan dermawan ini tidak mengabulkan permintaan gubernur. Ia hanya mau mengajar siapa saja manakala muridnya bersedia datang belajar di rumahnya.

Tentu saja gubernur, yang tidak biasa mendengar perintahnya ditolak, jadi marah-marah oleh sikap Bukhari. Sang gubernur kemudian mengusirnya dari kampung kelahirannya.

Tak ada jalan lain. Sekalipun biasa mengembara, mneninggalkan kampung halaman dengan status orang usiran tentu dirasanya tak enak. Tapi apa mau dikata. Bukhari pun berhijrah. Tidak terlalu jauh, karena masih di Asia Tengah. Ia menetap di Samarkand. Kegiatannya di sana sama saja, mengajar dan mempelajari hadits, hingga ia meninggal pada usia 62 tahun. Eloknya, kewafatannya bertepatan dengan malam ‘Idul Fitri 256 Hijriah, setelah genap 30 hari puasa dijalani.

Di jaman Imam Bukhari, banyak orang yang telah melakukan penyelewengan terhadap hadits-hadits Rasulullah saw untuk berbagai kepentingan. Bentuk penyelewengan itu dapat berupa pemalsuan, pembelokan makna, ataupun pengaburan sumber dan keterangannya. Maklum, penjual agama saat itu memang banyak sekali bergentayangan.

Medan ilmu hadits bagaikan lautan yang luas tak bertepi, karena di sini –tidak sebagaimana terhadap, kitab al- Qur’an– terbuka kesempatan untuk melakukan penyelewengan. Dalam kondisi jalur komunikasi belum selancar sekarang, keabsahan terhadap suatu hal tidak bisa dikoreksi secara terbuka. Membuat hadist baru gampang dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki kekuasaan. Itulah sebabnya banyak beredar hadits palsu, bercampur dengan hadits asli.

Untunglah Bukhari hadir. Dari kecemerlangan pemikirannya, lahir standarisasi ilmu hadits, yang bisa dipergunakan sepanjang masa. Ia menetapkan ukuran-ukuran bagi sebuah hadits agar layak dikelompokkan ke dalam hadits shahih. Itulah dasar-dasar ilmu hadits yang tetap menjadi pegangan hingga sekarang.

Dalam tahap penyeleksian hadits-hadits shahih, nampaklah kejeniusan dan kepakaran Bukhari. Ia memilih dan memilahnya dengan sangat teliti. Bukhari memang sangat teguh memegang amanat dalam mengemukakan isi hadits yang diriwayatkannya, dan secara moral ia mempertanggungjawabkannya dengan sungguh-sungguh. Ia melakukan proses ijtihadi yang mendalam dan detail untuk sampai pada tujuan hakiki dengan seluruh cara yang paling baik dan benar.

Ukuran utama yang dijadikan pedoman untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu shahih atau palsu dimulainya dari kebenaran dan kejujuran para perawi hadits, ahli hadits, berikut identitas mereka. Ia juga meneliti sampai sejauh mana ketaqwaan, kejujuran, dan fanatik madzab orang-orang yang terlibat secara langsung dalam mata rantai periwayatannya.

Bila mereka terbukti bersih dan tidak terlibat hal-hal tersebut di atas, ia anggap orang itu layak untuk dipercaya (tsiqat). Terlebih bila ada ketersambungan jaman dengan orang-orang yang meriwayatkan hadits, penulis hadits, dan namanya tercantum dalam mata rantai perawi hadits itu, maka, oleh Imam Bukhari, hadits itu dianggap shahih.

Jadi keshahihan hadits menurut Bukhari terletak pada sanad (mata rantai rawi), bukan pada matan (isi atau inti) haditsnya. Ia pernah mengatakan, “Sanad merupakan tiang pancang hadits. Bila ia roboh, akan robohlah haditsnya. Jika sanad itu benar, hadits dapat diterima, walau bagaimanapun isinya. Meskipun isi hadits itu berlawanan dengan logika atau sejarah yang sudah benar.”

Metodologi inilah yang oleh Husein Ahmad Amin dikritik. Dikatakannya, cara seperti ini bisa terkecoh siasat pemalsu hadits. Misalnya, bisa saja seseorang membuat silsilah atau mata rantai riwayat yang sangat bagus hingga tak mungkin dikesampingkan, dan isinya didasarkan atas logika yang benar. Toh tidak mungkin semua manusia mencapai tingkat pemahaman atas semua hadits Rasulullah saw.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyatakan, “Dasar penyeleksian hadits shahih dari yang palsu adalah dengan menggunakan pembedaan antara yang mungkin dan yang mustahil.” Sedangkan menurut Ibnu Abdul Barr dan Imam Nawawi, “Hadits shahih itu harus tidak bertentangan dengan logika dan hakekat sejarah.”

Namun Imam Bukhari dalam Shahih-nya tetap menegaskan, “Hadits shahih adalah hadits yang keshahihannya disepakati oleh rawi tsiqat yang meriwayatkan dari seorang sahabat yang masyhur, yang tidak terjadi perselisihan pendapat di antara para tsiqat itu sendiri. Selain itu, mata rantai sanad hadits itu harus bersambung, tidak terputus.” Berbagai pendapat ini sebenarnya berujung pada satu titik yang sama, yakni keshahihan hadits mensyaratkan terpercayanya perawi dan kebenaran isinya. Adapun terhadap Imam Bukhari, selayaknya tetap dihargai keseriusan dan jasa- jasanya, apalagi ia terbiasa mandi dan shalat dua rakaat sebelum memutuskan sebuah hadits termasuk shahih.

Luasnya samudra ilmu Bukhari membuatnya semakin tawadhu dan pemalu. Suatu kali ia pernah berkata, “Aku berharap untuk berjumpa dengan Allah, dan Dia tidak meng-hisab-ku yang telah menggunjing orang.” Ucapannya ini dibuktikan dengan caranya mendaifkan hadits yang diseleksi. Jika menemukan rawinya batal atau tertolak, ia cukup mengatakan, “Ada sesuatu dalam dirinya,” atau, “Mereka tidak berkata apa-apa tentang dirinya.” Jarang sekali Bukhari sampai mengatakan dengan terus terang, “Fulan itu seorang pembohong.”

Sumpah Iblis Untuk Anak Cucu Adam As.

“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

Di dalam ayat ini Allah Ta’ala mengisahkan tentang Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan Bani Adam dari jalan yang lurus sekuat tenaga dengan berbagai cara dan dari segala arah dengan berbagai taktik dan strategi.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ighosatul Lahfan menjelaskan : “Jalan yang dilalui oleh insan ada empat, (tidak lebih) ia terkadang arah depan dan arah belakang di jalan manapun ia lalui, ia akan menjumpai syaithan mengintai. Bila menempuh jalan ketaatan, ia menjumpai syaithan siap menghalangi atau memperlambat laju jalannya bila ia menempuh jalur kemaksiatan, ia akan menjumpai syaithan siap mendukungnya”.

Syahqiq pernah berkata :”Tiada suatu pagi pun melainkan syaithan telah duduk mengintaiku dari empat penjuru dari depan dan belakangku serta dari arah kanan dan kiriku. Iapun berkata : “Jangan engkau takut karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang maka aku membaca : “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal sholih, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaha: 82)

Adapun dari arah belakangku maka ia menakut-nakuti akan menelantarkan keluarga yang akan aku tinggalkan. Maka aku membaca : “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”(Hud : 6)

Dari arah kanan ia mendatangiku dari sisi perempuan, maka aku baca : “….Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.

Dari arah kiri ia mendatangiku dari sisi syahwat, maka aku membaca : “Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan….”(Saba’ : 54) (Lihat Mawaridul Aman 173-174)

Inilah ambisi syaithan, untuk menyesatkan semua bani Adam sampai tidak tersisa seorang pun dari mereka yang bersyukur dan taat kepada Allah. Secara realita, ternyata program syaithan ini menjadi kenyataan karena mayoritas bani Adam telah terperangkap dalam jebakan-jebakannya, kecuali hamba-hamba Allah yang ikhlas. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang Iblis : “Iblis menjawab : “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” Allah berfirman: ” Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Aku katakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenismu dan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semua.” (Shad : 82-85)

Cara Syaithan Menggoda Bani Adam

Dalam rangka menyesatkan bani Adam dari jalan yang lurus, syaithan mempersiapkan cara dan jebakan-jebakan. Ada enam tingkatan jebakan yang dipasang syaithan untuk menjerat bani Adam sebagaimana yang diteraangkan para ulama, yaitu :

Pertama : Syaithan akan berupaya menjerumuskan bani Adam ke lembah kekafiran atau kesyirikan. Namun bila bani Adam selamat dari jebakan ini syaithan akan menggunakan cara berikutnya.

Kedua : Syaithan akan berusaha menjatuhkan bani Adam ke lembah bid’ah sehingga ia mengamalkan bid’ah dan menjadi ahlil bid’ah. Namun bila bani Adam termasuk ahli sunnah dan tidak mampu diperdaya, maka syaithan akan menggunakan cara berikutnya.

Ketiga : Syaithan akan menggoda bani Adam untuk melakukan dosa-dosa kecil dan menganggapnya remeh. Namun bila Allah menjaganya, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.

Keempat : Syaithan akan menggoda bani Adam untuk melakukan dosa-dosa kecil dan mengangganya, maka syaithan akan menggoda dengan cara lain.

Kelima : Syaithan akan menyibukkan bani Adam dengan perkara mubah sehingga mereka lalai dari perkara pokok. Namun bila bani Adam selamat dari perangkap ini, maka syaithan akan menggunakan cara yang terakhir.

Keenam : Syaithan akan menyibukkan bani Adam dengan amalan yang rendah nilai pahalanya, misalnya dia menyibukkan bani Adam dengan amal sunnah sehingga melalaikannya dari amal wajib. Demikian seterusnya (Lihat Madakhilus Syaithon ‘alas shalihin 9-10)

Bila ada seorang yang selamat dari enam perangkap syaithan tersebut, maka dia termasuk hamba Allah yang ikhlas yang tidak dapat digoda oleh syaithan dengan taufiq dan hidayah dari Allah Ta’ala.

Makar Jahat Syaithon

1. Menabur Benih Permusuhan dan Buruk Sangka di Kalangan Muslimin
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits bersabda : “Sesungguhnya iblis telah berputus asa untuk dapat disembah oleh orang-orang sholih, namun dia berupaya menebarkan benih permusuhan di kalangan mereka.” (HR Muslim 2812 dan Tirmidzi 1938)

Su’udhan atau buruk sangka adalah salah satu cara syaithan mencerai-beraikan bani Adam (barisan kaum muslimin).

Demikian pula tahrisy (menebar benih permusuhan). Dalam sebuah hadits dari Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyai, dia bercerita : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah i’tikaf di masjid, lalu aku datang menjenguk beliau pada suatu malam untuk berbincang-bincang dengan beliau. (Setelah selesai) aku pun bangkit untuk kembali dan beliau pun bangkit bersamaku untuk menemani. Ketika itu lewatlah dua orang laki-laki Anshor radliallahu ‘anhuma. Tatkala mereka melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun mempercepat langkahnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun berseru : “Perlahanlah! Wanita ini adalah Shafiyah!” Dua orang itupun berkata :”Subhanallah, ya Rasulullah!” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya syaithan menjalar pada diri Adam pada aliran darah dan sungguh aku khawatir syaithan akan melemparkan kejahatan pada hati kalian berdua (ketika melihat aku) lalu terucaplah sesuatu.” (HR Bukhari 4/349-350)

2. Menghiasi Bid’ah Bagi Manusia

Syaithan akan datang pada seseorang dengan menghiasi kebid’ahan dan membisikkan dalam hatinya : “Orang-orang di masa kini telah jauh meninggalkan agamanya dan sulit sekali mengembalikan mereka kepada agama. Alangkah baiknya kalau engkau mengerjakan beberapa amal ibadah dengan beberapa tambahan dari apa yang telah ditetapkan dalam sunnah Rasul dengan harapan agar mereka kembali pada agama mereka, karena menambah amal kebajikan adalah baik.” Akhirnya orang bodoh tersebut pun mengikuti bisikan syaithan.

Kita telah mengetahui bahwa ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu harus diambil dari petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam semata. Kita tidak memiliki hak untuk menambah dan mengurangi atau mengubah semau kita karena ini adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dan termasuk perangkap syaithan.

3. Menakut-nakuti Bani Adam

Dalam hal ini syaithan akan menakuti bani Adam dengan dua cara :

Pertama : Syaithan akan menakuti bani Adam dengan wali-walinya dari kalangan orang-orang kafir, musyrik, fasiq, dan ahli maksiat. Syaithan membisikkan : “Hati-hati kamu dari mereka! Mereka memiliki kekuatan yang dahsyat….!” Akhirnya dia pun bergabung dengan wali-wali syaithan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya yang demikian itu tidak lain hanyalah syaithan yang menakut-nakuti kamu dengan kawan-kawannya (orang musyrik Quraisy) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (Ali Imron : 175)

Kedua : Syaithan akan menakuti bani Adam dengan kefakiran. Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan : “Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu dengan kejahatan (kikir) …” (Al-Baqarah : 268)

Syaithan membisikkan kepada tukang riba : “Kalau engkau tinggalkan profesimu, dari mana kamu akan mendapatkan harta? Kamu akan jatuh miskin!” Akhirnya orang tersebut lebih bersemangat menekuni profesi riba.

Syaithan membisikkan kepada penjual khamr : “Jangan engkau tinggalkan profesimu, tidak ada profesi yang lebih menguntungkan selain profesi yang sedang engkau geluti. Kalau engkau tinggalkan engkau akan jatuh. Belum tentu engkau mendapati profesi pengganti sebaik ini!” Akhirnya dia pun semakin giat memasarkan berbagai produk dan merek khamr.

Semua itu adalah bisikan syaithan yang menyesatkan bani Adam padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman : “… Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq : 2-3)

4. Melemparkan Keraguan Dalam Hati

Termasuk cara syaithan menyesatkan bani Adam adalah melemparkan keraguan dan was was dalam hati baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun muamalah. (Lihat Madakhilus Saithan ‘alas Shalihin 11-27)

Masih banyak lagi cara dan perangkap yang dipasang syaithan untuk menjerat bani Adam. Di samping itu ada beberapa hal yang mudahnya syaithan menjalankan makarnya, di antaranya :

1. Kebodohan bani Adam

2. Hawa nafsu, lemah keikhlasan, dan tipisnya keimanan

3. Lalai dari dzikrullah

4. Tidak memperhatikan jebakan-jebakan syaithan

5. Mengerjakan perbuatan sia-sia

6. Berlebih-lebihan (israf) dari kebutuhan

(Lihat al-Fawaid hal 185-186 dan Madakhilus Syaithan ‘alas Shalihin hal 28)

Jalan Keluar dari Makar (Godaan) Syaithan

Di akhir pembahasan ini kami sebutkan beberapa cara untuk menyelamatkan diri dari cengkeraman, godaan dan jebakan-jebakan syaithan yang tertulis dalam kitab Madakhilus Syaithon ‘alas Shalihin hal 28-29, yaitu

1. Beriman kepada Allah Ta’ala dan bertawakal kepada-Nya. Allah berfirman : “Sesungguhnya syaithan itu tidak ada kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-Nya.” (An-Nahl :99)

2. Menuntut ilmu syar’i dari sumber dan pemahaman yang benar karena dengan ilmu ini kita terbimbing kepada jalan yang lurus dan mampu menepis sekian banyak perangkap syaithan yang dipasang untuk menjerat kita.

3. Mengokohkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.” (Al-Hijr :40)

4. Membentengi dengan dzikrullah dan isti’adzah (memohon perlindungan) kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman : “Dan jika kamu ditimpa godaan syaithan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (Al-A’raf : 200)

Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari jebakan-jebakan syaithan yang menyesatkan.

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

“Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk Surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam Surga kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda dengan membawa gelas, cerek, dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al Waqiah : 10-21)

Di samping mendapatkan kenikmatan-kenikmatan tersebut, orang-orang yang beriman kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala kelak akan mendapatkan pendamping (istri) dari bidadari-bidadari Surga nan rupawan yang banyak dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an yang mulia, diantaranya :

“Dan (di dalam Surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli laksana mutiara yang tersimpan baik.” (QS. Al Waqiah : 22-23)

“Dan di dalam Surga-Surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan, menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni Surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.” (QS. Ar Rahman : 56)

“Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (QS. Ar Rahman : 58)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqiah : 35-37)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggambarkan keutamaan-keutamaan wanita penduduk Surga dalam sabda beliau :

“ … seandainya salah seorang wanita penduduk Surga menengok penduduk bumi niscaya dia akan menyinari antara keduanya (penduduk Surga dan penduduk bumi) dan akan memenuhinya bau wangi-wangian. Dan setengah dari kerudung wanita Surga yang ada di kepalanya itu lebih baik daripada dunia dan isinya.” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu)

Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Diantara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita-wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557)

Apakah Ciri-Ciri Wanita Surga

Apakah hanya orang-orang beriman dari kalangan laki-laki dan bidadari-bidadari saja yang menjadi penduduk Surga? Bagaimana dengan istri-istri kaum Mukminin di dunia, wanita-wanita penduduk bumi?

Istri-istri kaum Mukminin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tersebut akan tetap menjadi pendamping suaminya kelak di Surga dan akan memperoleh kenikmatan yang sama dengan yang diperoleh penduduk Surga lainnya, tentunya sesuai dengan amalnya selama di dunia.

Tentunya setiap wanita Muslimah ingin menjadi ahli Surga. Pada hakikatnya wanita ahli Surga adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seluruh ciri-cirinya merupakan cerminan ketaatan yang dia miliki. Diantara ciri-ciri wanita ahli Surga adalah :

1. Bertakwa.

2. Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.

3. Bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan, dan naik haji bagi yang mampu.

4. Ihsan, yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat Allah, jika dia tidak dapat melihat Allah, dia mengetahui bahwa Allah melihat dirinya.

5. Ikhlas beribadah semata-mata kepada Allah, tawakkal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut terhadap adzab Allah, mengharap rahmat Allah, bertaubat kepada-Nya, dan bersabar atas segala takdir-takdir Allah serta mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan kepadanya.

6. Gemar membaca Al Qur’an dan berusaha memahaminya, berdzikir mengingat Allah ketika sendiri atau bersama banyak orang dan berdoa kepada Allah semata.

7. Menghidupkan amar ma’ruf dan nahi mungkar pada keluarga dan masyarakat.

8. Berbuat baik (ihsan) kepada tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan seluruh makhluk, serta berbuat baik terhadap hewan ternak yang dia miliki.

9. Menyambung tali persaudaraan terhadap orang yang memutuskannya, memberi kepada orang, menahan pemberian kepada dirinya, dan memaafkan orang yang mendhaliminya.

10. Berinfak, baik ketika lapang maupun dalam keadaan sempit, menahan amarah dan memaafkan manusia.

11. Adil dalam segala perkara dan bersikap adil terhadap seluruh makhluk.

12. Menjaga lisannya dari perkataan dusta, saksi palsu dan menceritakan kejelekan orang lain (ghibah).

13. Menepati janji dan amanah yang diberikan kepadanya.

14. Berbakti kepada kedua orang tua.

15. Menyambung silaturahmi dengan karib kerabatnya, sahabat terdekat dan terjauh.

Demikian beberapa ciri-ciri wanita Ahli Surga yang kami sadur dari kitab Majmu’ Fatawa karya Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah juz 11 halaman 422-423. Ciri-ciri tersebut bukan merupakan suatu batasan tetapi ciri-ciri wanita Ahli Surga seluruhnya masuk dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

“ … dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sedang mereka kekal di dalamnya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. An Nisa’ : 13).

Wallahu A’lam Bis Shawab.

4 PERKARA SEBELUM TIDUR ( Tafsir Haqqi )

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :

Sebelum khatam Al Qur’an,
Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
Sebelum para muslim meridloi kamu,
Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh….

“Bertanya Aisyah :
“Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?”

Rasul tersenyum dan bersabda : “Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an.

Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan
memberi syafaat di hari kiamat.

Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu.

Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka
seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”

Sekian untuk ingatan kita bersama.

* Kalau rajin..Tolong sebarkan kisah ini kepada saudara Muslim yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu amal yang berkekalan bagi orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati.