Rahmat Rijalun Computer Clinic

Petikan Tanggapan Masyarakat & Suporter Persipura Atas Penyelenggaraan COPA Indonesia di Facebook | Persipura Jayapura

Juni 28, 2009 · 34 Komentar

Persipura

COPA INDONESIA !!!!

SRIWIJAYA PEMENANGNYA!!!!!

BAIK!!!!!

NAMUN PERSIPURALAH JUARANYA!!!!!

MEREKA BERTAHAN DIATAS SEBUAH KEBENARAN!!!

BAHWA KETIDAKJELIAN WASITLAH YANG MENYEBABKAN KECARUTMARUTAN PERTARUNGAN INI….!!!!!

INGAT!!!!!

SANG MUTIARA HITAM (PERSIPURA) AKAN MENJADI TIM BOLA RAKSASA DI NKRI….. YANG SUATU MASA AKAN MENJADI KEBANGGAAN DAN KEANGKUHAN NEGARA INI…. SAYA PERCAYA…. DAN MENGAMINI HAL INI… SEBAB MEREKA “TELAH DIJAMAH”

SETUJU SEMUA?????????????????????
TORANG SEMUA CINTA PERSIPURA!!!!!
MAJULAH PERSIPURAKU!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Kekuatan Persipura Jayapura…. Terletak Pada Doa Seluruh Masyarakat Papua dan Berkat dari Tuhan YME

Bahkan tidak sedikit dari kalangan Non Papua pun menyayangkan kejadian pada pertandingan Grand Final Copa Indonesia antara Persipura VS Sriwijaya !!!!!

Berikut Tanggapan-tanggapan mereka yang saya kutip dari sebuah Group di Facebook.com dengan nama “Persipura Jayapura”

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Albert Abrauw

Albert Abrauw PERSIPURA JAYAPURA The real winer.. Mata dunia kan terbuka melihat kebobrokan Negara ini.. Yang Maha Kuasa Tidak tinggal diam melihat ketidakadilan ini. Bravo Persipura Jayapura..

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Roy Ryan Mambo

Roy Ryan Mambo Wasit dan PSSI keterlaluannn.. ini sudah tidak masuk akal lagi,,sepakbola Indonesia tidak akan maju kalo begini..!! Hidup PERSIPURA, God be with u

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Jemmy Mamoribo

Jemmy Mamoribo keringat dr babak awal capek, suka, duka,..semuanya hingga final trus ‘dikerjain’ macam begini…..sa yakin neraka pun tak sudi untuk terima semua pihak yg berada dan bertanggung jawab atas semua ini..

Anda dan Oszy Boekorsjom menyukai ini.
Oszy Boekorsjom menyukai ini

Tulis komentar…

Aldy Farlley

Aldy Farlley sa yakin sekali klo malam ini, PURWANTO…dapat maki2 sampe bodoh oleh masyarakat PAPUA…..!!!

wasit GOBLOKKKKKKKKKK……….!!!!!

Anda menyukai ini.
kojaga diaaa sudahhhh

Tulis komentar…

Fida Mohamad

Fida Mohamad jangan sedih masarakat papua seluruh rakyat indonesia yang menonton juga tau.maju trus persipura.Tabea

Anda dan Septhy Asmuruf menyukai ini.
Septhy Asmuruf menyukai ini

Tulis komentar…

Lerry Morganda

Lerry Morganda Persipura kalah dengan cara yg tidak fair..wasit curang..memang susah mendapatkan keadilan di tanah Indonesia ini..simpan amarah ntuk bermain bagus di AFC champion league..Klub2 Asiapun bisa kita kalahkan nanti…disana juga wasit lebih netral..love u Persipura..

Anda dan 4 orang lainnya menyukai ini.
4 orang menyukai ini.

Tulis komentar…

Geraldy Ruwayari

Geraldy Ruwayari Pak Wasit….Hidupmu tidak akan damai,,,Smua org Papua akan memandang Rendah dirimu !!!!!!!!

Anda dan Clifford Nusawakan menyukai ini.
Clifford Nusawakan menyukai ini

Tulis komentar…

Septhy Asmuruf

Septhy Asmuruf BIAR BAGAIMANA PUN PERSIPURA ADALAH THE WINER SEJATI, YANG MEMPERTAHANKAN HARGA DIRI ORANG PAPUA…
I LOVE YOU PERSIPURA…..

Anda dan 2 orang lainnya menyukai ini.
2 orang menyukai ini.

Tulis komentar…

Franky Rosevelth

Franky Rosevelth Spirit…Spirit….
Tetap semangat PERSIPURAKU…..
Engkaulah Cermin Persepak Bola’an di Indonesia….
Kaulah “The Winner”…SEJATI lagiiii….. I Love U 4 Ever…
Jesus Christ be with U 4 Ever…

Anda dan 2 orang lainnya menyukai ini.
2 orang menyukai ini.

Tulis komentar…

Kevin Romario Risakotta BIAR KITA KALAH DENGAN CARA YANG GA WAYAR…TAPI PERSIPURA TETAP DIHATIKU…NURDIN HALID BODOK..

Anda dan 3 orang lainnya menyukai ini.
3 orang menyukai ini.

Tulis komentar…

Clifford Nusawakan

Clifford Nusawakan WASITTT .,.,.,.PRESBIOPI.,,..,!!!!!!!!!!!

kalau seng tau main bola jangan bnyak bicara(talk less do more) .,,..

INI JADI PELAJARAN PENTING BUAT WASITT, PSSI n SEPAKBOLA INA, lain kali klau final jangan di kndng pemain, wasit usahakan dari luar INA..apa yg PERSIPURA BUAT menurut BETA itu sudah baik,,,,,KALAU SENG KAYAK BAGINI SEPAK BOLA INA SENG AKAN MAJU,,..,ImAnUeL PERSIPURA.,,.,

Anda dan Antonius Hermawan menyukai ini.
Antonius Hermawan menyukai ini

Tulis komentar…

Syahrizal Arifnaldi

Syahrizal Arifnaldi ALWAYS PERSIPURA…!!!

Anda dan 3 orang lainnya menyukai ini.
3 orang menyukai ini.

Tulis komentar…

Yusuf Ronny Awarawi trapapa biar sudah tapi yG pasti persipura yG alwayss k…???

Anda dan Antonius Hermawan menyukai ini.
Antonius Hermawan menyukai ini

Tulis komentar…

Rizal Rangga Pratama

Rizal Rangga Pratama percuma semua menggonggong juga, yg PERLU DIGANTI tuh KETUA PSSI
jelas2 KORUPTOR, dah gitu gak nyambung juga tau apa dia?
turunin dulu NURDIN KHALID! gak akan maju kalo di pimpin dia!

Anda dan Syahrizal Arifnaldi menyukai ini.
Syahrizal Arifnaldi menyukai ini

Tulis komentar…

Antonius Hermawan

Antonius Hermawan Kalo begini caranya.. Persipura sendiri yg rugi… gak ada untungnya…

Anda menyukai ini.
Max 'Maqis' Soentpiet
dari 50 orang yang nonton bareng : 30 yang sedih, 5 aja yang setuju Persipura walkout, sisanya : masih emosi….
Clifford Nusawakan

Clifford Nusawakan pada 29 Juni 1:37

dari manado: 37 nton breng, 15 lbih sedihh + emosiii, sisanya melampiaskan kekecewaan pada pintu2 kos,.,hanya satu yang sangat kecewa.,,.RENATO KOMBADO ,.,,ada yang kenal NATO,.,,dia TITIP SALAM buat semua pemain PERSIPURA,.,.,,imanuel persipura!!!!

Tulis komentar…

Michael Soentpiet

Michael Soentpiet can someone elaborate what happened here?? yg beta liat cuma persipura walked out tapi seng ada yg bilang kenapa??

Anda menyukai ini.
Max 'Maqis' Soentpiet
Ya Bro, Persipura dirugikan wasit, ijury time babak pertama wasit meniup peluit sebelum bola menyentuh badan / kaki pemain dari bola mati, babak kedua : sudah jelas2 bola hands ball, that’s why……Hidup Persipura!!!!!

Tulis komentar…

Antonius Hermawan

Antonius Hermawan Gara2 walk out..juara melayang…hukuman komdis BLI menanti…
jgn salahkan kaka’ Edu jgn salahkan Jackson, jgn salahkan pemain…
ini tanggung jawab manager…
Bisa2 taon depan Persipura tra bisa ikut piala Copa…

Anda menyukai ini.
Jemmy Mamoribo

Jemmy Mamoribo pada 29 Juni 2:22

tidak ikut kenapa kah? epen kah?
Jemmy Mamoribo

Jemmy Mamoribo pada 29 Juni 2:23

ko pikir gampang main sampe final..?? wajar kalo emosi pemain kayak begitu apapun resikonya… masih mending dorang tra pukul wasit

Tulis komentar…

Antonius Hermawan

Antonius Hermawan Persipura is the best ……….
namun, apapun keputusan wasit, harus diterima dgn sportif… tp kalo walk out? itu yg tdk fairplay… mending kalah terhormat dari pada mental tempe gitu…

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Angelia Woro Hapsari

Angelia Woro Hapsari Wasit, PSSI, Noerdin “muthafucka death meat”

Anda dan 2 orang lainnya menyukai ini.
2 orang menyukai ini.
Rizal Rangga Pratama

Rizal Rangga Pratama pada 29 Juni 1:09

ahahaha Noerdien SUCKS! hahaha

Tulis komentar…

Muchamad Aziez

Muchamad Aziez contoh tu chelsea gag sampai mogok main!!!!!!!!! dasar gag bermental!!!!!!!!!!!!!! sepak bola terima menang dan kalah!!!!!!!!!!! saya warga surabaya malu melihat partai final seperti itu!!!!!!!!

Anda menyukai ini.
Septhy Asmuruf

Septhy Asmuruf pada 29 Juni 1:57

KALAU KASI KOMENTAR LIAT DULU KONDISI PERSEBAYA UDA BENAR AP TIDAK…!!!
MALU MALUIN DIRI SENDIRI….. HEHEHEHEHE skale lagi kasian banget PERSEBAYA HANYA JLN DI TEMPAT.
Jemmy Mamoribo

Jemmy Mamoribo pada 29 Juni 2:27

obyektifitas diperlukan dlm hal ini bro… wajar kalo spontanitas pemain kyk itu..tdk gampang main dr awal hingga final, berapa besar biaya dan tenaga yg habis…jd wajar saja.. jgn salahkan persipura, salahkan wasit,..jgn bicara chelsea ini bukan inggris atau piala internasional lainnya ,..ini di INDONESIA… di kopu negara

Tulis komentar…

Beto Felle

Beto Felle TOP SCORER “NURDIN HALID”

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Rohedi Cesar

Rohedi Cesar top abis purwanto hari ini maenya

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Muchamad Aziez

Muchamad Aziez memalukan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! bukan sebuah tim yang elit bukan tim yang patut jadi contoh bukan tim yang terbaik di negeri ini melainkan pecundang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! gara2 handsball aja gag mau ngelanjutin pertandingan!!!!!!!!! pengecut

Anda menyukai ini.
Syahrizal Arifnaldi

Syahrizal Arifnaldi pada 29 Juni 0:57

yg menang ISL trnyata pecundang ya????trus klo ada team dbawah’y pecundang apa ya????apalagi team yg ga masuk ISL…!!!
talk less do more…
dasar orang banyak omong…!!!!!!!!
Septhy Asmuruf

Septhy Asmuruf pada 29 Juni 2:00

JANGAN BANYAK OMONG URUS DIRI SENDIRI DULU BARU URUS DIRI ORANG LAEN……. MASUK ISL AJ TDK COPA JUGA APA LAGI.. YANG MAU DI BANGAKAN DR PERSEBAYA APA……..????????????????????
DI NKRI YANG DI AKUI HANYA PERSIPURA…
Jemmy Mamoribo

Jemmy Mamoribo pada 29 Juni 2:31

krna anda bukan pemain persipura cuma jd penonton yg tidak tahu bermain bola jd gak usah komentar berlebihan..inilah tipe2 org indonesia..komentar paling banyak tp prestasi nol…

Tulis komentar…

Wawa Kzk

Wawa Kzk BEST PLAYER “PURWANTO”

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Irene Margareth Hutabarat

Irene Margareth Hutabarat persipura kereeeeeeeen!!!!!!!!!
bgs2!!!
I REALLY PROUD TO BE A FAN OF PERSIPURA!!!
Jesus Christ always be with all of u!!

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Leonora Wongkaren

Leonora Wongkaren ciayooo,,persipura,,,
ko bisssaaaaaaaaaaaaaaaaa,,,,

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Uding Nga Pake G

Uding Nga Pake G pertandingan tidak sportif!! Gagal jadi Wasit,

Seharusx diberikan pertandingan ulang, dngn tidak menggunakan wasit yg memihak pada satu team tertentu.
Semangat trs persipura! pertahankan trs prestasi yg tlah diraih!
Good Luck,

Anda dan Septhy Asmuruf menyukai ini.
Septhy Asmuruf menyukai ini
Mikhael Ryano Arianda Santyaputra
Setuju gw, harusnya Purwanto ngga usah jadi wasit, mendingan jadi tukang kebon aja, Bravo Persipura

Tulis komentar…

Tulus DanNyawanya

Tulus DanNyawanya wasiT beraT sebelaH!!!!
haruSnya handsBall…

Anda menyukai ini.

Tulis komentar…

Persipura Jayapura

Persipura Jayapura The Final is about to begin…ayo semua duduk manis didepan TV.

Anda dan 61 orang lainnya menyukai ini.
61 orang menyukai ini.

→ 34 CommentsKategori: Biak Papua · Indonesia · Papua
Tagged: , , , , , , , , , ,

Banyak Kalangan Masih Berharap agar Presiden RI kini Susilo Bambang Yudhoyono, untuk Memimpin Negeri ini 5 Tahun Mendatang!!!!

Juni 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kita Semua Memiliki Kewajiban
Untuk Melanjutkan Segala Sesuatu Yang Belum Tuntas Hingga Kini…..

Rahmat Rijalun Computer Clinic Design

LANJUTKAN HINGGA TUNTAS

Bagaimana Dengan Anda???

→ Leave a CommentKategori: AMIK RIZKY MAKASSAR · Biak Numfor · Biak Papua · Computer · Design · Digital Sablon · Ilmu Pengetahun · Indonesia · Papua · Pemilu · Rahmat · Service · Tehnologi
Tagged: , , , , , , , , ,

Ketika Manusia Berdo’a…… Allah SWT Berkata!!!!

Juni 22, 2009 · 1 Komentar

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah ambillah kesombonganku dariku.”
Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus
menyerahkannya. “

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku
yang cacat.”
Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah
sementara.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah beri aku kesabaran.”
Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam
menghadapi cobaan, tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah beri aku kebahagiaan. “
Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung
kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan.”
Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan
mendekatkanmu pada-Ku.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah beri aku segala hal yang
menjadikan hidup ini nikmat.” Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau
kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

Ketika manusia berdo’a, “Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain,
Sebesar cinta-Mu padaku.

Allah berkata… “Akhirnya kau mengerti .!!”

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah
payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi
tak ada hasilnya.

Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran
telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali, sementara orang lain
dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan.

Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi
justru orang lain yang mendapatkannya- tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir
dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti
pasangan.

Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang
terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang
demam dan pilek lalu kita melihat tukang es.

Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es
dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada
orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek
agar dibelikan es.

Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit
kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita
tentu ingin kita sembuh dulu
baru boleh minum es yang lezat itu. Begitu pula dengan Allah, segala yang
kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita.

Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya.

Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.

Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan
terus berdoa.

→ 1 CommentKategori: Biak Papua

Beberapa Do’a Rasulullah….

Juni 22, 2009 · 1 Komentar

Doa adalah ibadah yang sangat agung, yang tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala. Hakikat doa adalah menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah Ta’ala dan berlepas diri dari daya dan upaya makhluk. Doa merupakan tanda Ubudiyah (penghambaan diri secara totalitas kepada Allah Ta’ala). Doa juga merupakan lambang kelemahan manusia. Di dalam ibadah doa terkandung pujian terhadap Allah Ta’ala. Disamping itu terkandung juga sifat penyantun dan pemurah bagi Allah Ta’ala. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Doa itu adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang banyak berdoa, memohon dan menunjukkan ketergantungan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Beliau sangat menyukai kalimat-kalimat yang ringkas namun sarat makna dan juga menyukai ucapan-ucapan doa.

Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:
“Ya Allah, tolonglah daku dalam menjalankan agama yang merupakan pelindung segala urusanku. Elokkanlah urusan duniaku yang merupakan tempat aku mencari kehidupan. Elokkanlah urusan akhiratku yang merupakan tempat aku kembali. Jadikanlah kehidupanku ini sebagai tambahan segala kebaikan bagiku dan jadikanlah kematianku sebagai ketenangan bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)

Di antara doa beliau adalah
“Ya Allah, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Ya Rabb Pencipta langit dan bumi, Rabb segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku, kejahatan setan dan bala tentaranya, atau aku melakukan kejahatan terhadap diriku atau yang aku tujukan kepada seorang muslim lain.” (HR. Abu Daud)

Demikian pula doa berikut ini:
“Ya Allah, cukupilah aku dengan rizki-Mu yang halal (supaya aku terhindar) dari yang haram, perkayalah aku dengan karunia-Mu (supaya aku tidak meminta) kepada selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi)


Di antara permohonan beliau kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala :
“Ya Allah, ampunilah dosaku, curahkanlah rahmat-Mu kepadaku dan temukanlah aku dengan teman yang tinggi derajatnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berdoa memohon kepada Rabb Ta’ala baik pada waktu lapang maupun pada saat sempit. Pada peperangan Badar, beliau berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala hingga jatuh selendang beliau dari kedua pundaknya, memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menurunkan pertolongan bagi kaum muslimin dan menjatuhkan kekalahan atas kaum musyrikin. Beliau sering berdoa untuk dirinya sendiri, untuk keluarga dan ahli bait beliau, untuk sahabat-sahabat beliau bahkan untuk segenap kaum muslimin

→ 1 CommentKategori: Agama
Tagged: , ,

Bukhari dan Sejuta Hadits di Kepalanya

Juni 21, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Imam Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu al-Mughirah al- Bukhari yang kemudian dikenal dengan nama Imam Bukhari, sejak lahir seakan sudah dipersiapkan untuk menjadi ahli hadits dan fiqh ternama. Ia menjadi pengumpul hadits shahih terbesar dengan kemampuannya menghafal 100 ribu hadits shahih dan 200 ribu hadits tidak shahih. Ia adalah seorang perintis dan pengembang lebih jauh tentang penyusunan kitab hadits, yang dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan ummat manusia. Hasil kerja ilmiahnya itu, dibukukan ke dalam sebuah kitabnya yang sangat terkenal dan monumental, yang diberinya judul Al-Jami’ ash-Shahih, yang di kalangan ummat Islam menduduki ranking kedua setelah Kitabullah.

Tatkala menyusun kitab shahih yang populer dengan dengan Kitab Shahih Bukhari itu, di dalam memori pikiran Imam Bukhari telah tersimpan satu juta hadits dari delapan puluh ribu rawi. Dari jumlah itu, 7.275 buah hadits saja yang dianggapnya shahih, termasuk banyak hadits yang diulang- ulang dari berbagai bab yang terdapat dalam kitab tersebut. Sedang untuk kitab shahih-nya ia memilih 9.082 hadits yang ditulisnya dalam waktu 16 tahun. Semuanya itu ia lakukan selama masa pengembaraannya di negeri orang. Dikatakan oleh KH. Jamil Akhmad dalam bukunya Hundred Great Muslims, “Sebagian terbesar tulisan Imam Bukhari yang terdapat dalam kitab Jami’us Shahih, penulisannya dikerjakan di samping makam Rasulullah saw di Madinah dalam kondisi suci dari najis.”

Sebagai seorang ahli hadits, reputasi kepakaran dan kealimannya belum tertandingi oleh siapa pun sampai saat ini. Betapa tidak, pada umur kurang dari sepuluh tahun ia sudah menghafalkan hadits. Pada umur sebelas tahun ia telah sanggup mengoreksi kesalahan sanad hadits. Dan dalam umur enam belas tahun ia telah hafal beberapa buah kitab hadits karangan Ibnu al-Mubarak dan karangan Waqi’.

Imam Bukhari dilahirkan pada 13 Syawal 194 H/816 M, di Bukhara. Masa balitanya dilaluinya dengan penderitaan yang sangat memilukan hati kedua orang tuanya, disebabkan buah hatinya mengalami kebutaan total. Namun, permohonan ayah dan ibunya dikabulkan oleh Allah, setelah sebelumnya ibu Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Ibrahim as, yang dalam mimpinya mengatakan, “Doamu dikabulkan oleh Allah swt.” Dan ternyata benar, Bukhari sembuh total dari penderitaan kebutaan pada keesokan harinya.

Setelah memasuki usia remaja tepatnya pada usia 16 tahun bersama ibu dan abang sulungnya, Rasyid Ibnu Ismail, Bukhari mengunjungi berbagai kota suci terutama Makkah dan Madinah. Dua tahun belajar di dua kota tersebut, ia telah mampu menyelesaikan tulisannya yang berjudul Qadaaya ash-Shahaabat wa at-Taabi’iin. Lalu mulailah ia melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mempelajari ilmu hadits dengan mendatangi beberapa pakar hadits di beberapa negara di timur tengah. Ia telah mengunjungi Iraq, Khurasan, Syria, dan Mesir untuk memperdalam kepakarannya.

Mengenai kecerdasan dan kemampuan menghafal Imam Bukhari, banyak pakar hadits yang memberikan kesaksian, di antaranya Ibnu Khuzaimah (w. 311 H). Katanya, “Saya tidak tahu jikalau ada di bawah langit Allah ini orang yang paling alim dengan hadits Rasulullah selain al-Imam al-Bukhari.” Bahkan ada seorang tokoh yang kesohor, yang sangat mengaguminya yaitu Imam Muslim Ibnu al-Hajjaj (204-261 H) yang mengatakan pujiannya itu langsung kepada Imam Bukhari, “Biarkanlah aku cium dua kakimu wahai guru dari segala guru dan tokoh dari segala ahli hadits.”

Ketenaran Imam Bukhari segera mencapai bagian dunia Islam yang jauh, dan ke mana pun ia pergi selalu dielu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatannya yang luar biasa. Banyak cendekiawan dan orang shalih dari seluruh dunia menjadi muridnya. Termasuk di antaranya Sheikh Abu Zarah Abu Hatim Tarmizi, Muhammad Ibnu Nasr, Ibnu Hazima, dan Imam Muslim.

Di samping terkenal sebagai Imam al-Muhaddisiin, ia juga terkenal sebagai seorang ahli hukum fikih dan sebagai mujtahid. Bahkan ia juga pernah menulis kitab tafsir At- Tafsir al-Kabiir dan kitab sejarah at-Taariikh al-Kabiir.

Untuk mengembangkan keahliannya di bidang hadits, Imam Bukhari menyempatkan diri hijrah untuk beberapa lama dan tinggal di Bagdad. Selama di Bagdad waktunya dihabiskan untuk mempelajari hadits dan bersilaturrahim kepada ulama-ulama ahli hadits. Inilah awal namanya dikenal di kalangan pakar hadits di luar kampung halamannya.

Apalagi setelah ia dianggap ‘lulus’ dari ujian yang mereka lakukan. Suatu saat ulama-ulama ahli hadits di kota itu mengundang Imam Bukhari dalam suatu acara temu ilmiah yang khusus membahas ilmu-ilmu hadits. Dalam pertemuan tersebut ada sekelompok pakar hadits yang meminta kepada Bukhari menyusun kembali seratus hadits yang telah diacak baik sanad maupun matan-nya. Ternyata Bukhari memang ahli di bidangnya, ke-seratus hadits tersebut mampu disusunnya kembali tanpa ada kesalahan satu pun.

Merasa cukup mempelajari ilmu hadits, Imam Bukhari pulang kampung. Tak pelak kehadirannya mendapatkan sambutan yang luar biasa. Tidak hanya masyarakat awam, tapi gubernur Khalid bin Ahmad pun menyambutnya dengan gembira. Saking kagumnya gubernur berhasrat mengundang sang Imam agar mau memberikan pelajaran privat kepada putra-putranya di kediaman gubernur. Namun Imam Bukhari yang dikenal sangat pendiam, pemalu, pemberani, tawadlu’, dan dermawan ini tidak mengabulkan permintaan gubernur. Ia hanya mau mengajar siapa saja manakala muridnya bersedia datang belajar di rumahnya.

Tentu saja gubernur, yang tidak biasa mendengar perintahnya ditolak, jadi marah-marah oleh sikap Bukhari. Sang gubernur kemudian mengusirnya dari kampung kelahirannya.

Tak ada jalan lain. Sekalipun biasa mengembara, mneninggalkan kampung halaman dengan status orang usiran tentu dirasanya tak enak. Tapi apa mau dikata. Bukhari pun berhijrah. Tidak terlalu jauh, karena masih di Asia Tengah. Ia menetap di Samarkand. Kegiatannya di sana sama saja, mengajar dan mempelajari hadits, hingga ia meninggal pada usia 62 tahun. Eloknya, kewafatannya bertepatan dengan malam ‘Idul Fitri 256 Hijriah, setelah genap 30 hari puasa dijalani.

Di jaman Imam Bukhari, banyak orang yang telah melakukan penyelewengan terhadap hadits-hadits Rasulullah saw untuk berbagai kepentingan. Bentuk penyelewengan itu dapat berupa pemalsuan, pembelokan makna, ataupun pengaburan sumber dan keterangannya. Maklum, penjual agama saat itu memang banyak sekali bergentayangan.

Medan ilmu hadits bagaikan lautan yang luas tak bertepi, karena di sini –tidak sebagaimana terhadap, kitab al- Qur’an– terbuka kesempatan untuk melakukan penyelewengan. Dalam kondisi jalur komunikasi belum selancar sekarang, keabsahan terhadap suatu hal tidak bisa dikoreksi secara terbuka. Membuat hadist baru gampang dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki kekuasaan. Itulah sebabnya banyak beredar hadits palsu, bercampur dengan hadits asli.

Untunglah Bukhari hadir. Dari kecemerlangan pemikirannya, lahir standarisasi ilmu hadits, yang bisa dipergunakan sepanjang masa. Ia menetapkan ukuran-ukuran bagi sebuah hadits agar layak dikelompokkan ke dalam hadits shahih. Itulah dasar-dasar ilmu hadits yang tetap menjadi pegangan hingga sekarang.

Dalam tahap penyeleksian hadits-hadits shahih, nampaklah kejeniusan dan kepakaran Bukhari. Ia memilih dan memilahnya dengan sangat teliti. Bukhari memang sangat teguh memegang amanat dalam mengemukakan isi hadits yang diriwayatkannya, dan secara moral ia mempertanggungjawabkannya dengan sungguh-sungguh. Ia melakukan proses ijtihadi yang mendalam dan detail untuk sampai pada tujuan hakiki dengan seluruh cara yang paling baik dan benar.

Ukuran utama yang dijadikan pedoman untuk mengetahui apakah sebuah hadits itu shahih atau palsu dimulainya dari kebenaran dan kejujuran para perawi hadits, ahli hadits, berikut identitas mereka. Ia juga meneliti sampai sejauh mana ketaqwaan, kejujuran, dan fanatik madzab orang-orang yang terlibat secara langsung dalam mata rantai periwayatannya.

Bila mereka terbukti bersih dan tidak terlibat hal-hal tersebut di atas, ia anggap orang itu layak untuk dipercaya (tsiqat). Terlebih bila ada ketersambungan jaman dengan orang-orang yang meriwayatkan hadits, penulis hadits, dan namanya tercantum dalam mata rantai perawi hadits itu, maka, oleh Imam Bukhari, hadits itu dianggap shahih.

Jadi keshahihan hadits menurut Bukhari terletak pada sanad (mata rantai rawi), bukan pada matan (isi atau inti) haditsnya. Ia pernah mengatakan, “Sanad merupakan tiang pancang hadits. Bila ia roboh, akan robohlah haditsnya. Jika sanad itu benar, hadits dapat diterima, walau bagaimanapun isinya. Meskipun isi hadits itu berlawanan dengan logika atau sejarah yang sudah benar.”

Metodologi inilah yang oleh Husein Ahmad Amin dikritik. Dikatakannya, cara seperti ini bisa terkecoh siasat pemalsu hadits. Misalnya, bisa saja seseorang membuat silsilah atau mata rantai riwayat yang sangat bagus hingga tak mungkin dikesampingkan, dan isinya didasarkan atas logika yang benar. Toh tidak mungkin semua manusia mencapai tingkat pemahaman atas semua hadits Rasulullah saw.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menyatakan, “Dasar penyeleksian hadits shahih dari yang palsu adalah dengan menggunakan pembedaan antara yang mungkin dan yang mustahil.” Sedangkan menurut Ibnu Abdul Barr dan Imam Nawawi, “Hadits shahih itu harus tidak bertentangan dengan logika dan hakekat sejarah.”

Namun Imam Bukhari dalam Shahih-nya tetap menegaskan, “Hadits shahih adalah hadits yang keshahihannya disepakati oleh rawi tsiqat yang meriwayatkan dari seorang sahabat yang masyhur, yang tidak terjadi perselisihan pendapat di antara para tsiqat itu sendiri. Selain itu, mata rantai sanad hadits itu harus bersambung, tidak terputus.” Berbagai pendapat ini sebenarnya berujung pada satu titik yang sama, yakni keshahihan hadits mensyaratkan terpercayanya perawi dan kebenaran isinya. Adapun terhadap Imam Bukhari, selayaknya tetap dihargai keseriusan dan jasa- jasanya, apalagi ia terbiasa mandi dan shalat dua rakaat sebelum memutuskan sebuah hadits termasuk shahih.

Luasnya samudra ilmu Bukhari membuatnya semakin tawadhu dan pemalu. Suatu kali ia pernah berkata, “Aku berharap untuk berjumpa dengan Allah, dan Dia tidak meng-hisab-ku yang telah menggunjing orang.” Ucapannya ini dibuktikan dengan caranya mendaifkan hadits yang diseleksi. Jika menemukan rawinya batal atau tertolak, ia cukup mengatakan, “Ada sesuatu dalam dirinya,” atau, “Mereka tidak berkata apa-apa tentang dirinya.” Jarang sekali Bukhari sampai mengatakan dengan terus terang, “Fulan itu seorang pembohong.”

→ Leave a CommentKategori: Agama
Tagged: , , , , ,

Awas !! Wajah baru sihir di sekitar kita

Juni 21, 2009 · 1 Komentar

Sihir dan sejenisnya dari cakupan ilmu-ilmu hitam makin populer dewasa ini. Para ‘pakar’ berikut iklan ’sihir’-nya bisa ditemui di hampir semua media massa. Merekalah yang seakan-akan menguasai rahasia dan kunci-kunci kehidupan.

Eksistensi mereka kian diperkuat dengan dongeng-dongeng takhayul nenek moyang utamanya yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan nusantara di masa lampau. Jadilah semua itu sebagai sebuah ajaran dan aliran tersendiri yang dibahasakan sebagai bagian dari agama.

Ironisnya, sebagian kaum muslimin kian terbentuk akal dan pikirannya dengan semua itu. Lahirlah kemudian keyakinan yang berasal dari akal yang jumud yang tergantung dan menggantungkan segala-galanya kepada orang-orang “sakti” tersebut.

Bahagia dan sengsara, senang dan susah, sehat dan sakit, berhasil dan gagal, maju dan mundur seolah-olah ada di tangan mereka. Umat pun mulai lupa akan kekuasaan dan ketentuan Allah.

Definisi Sihir

Secara etimologis atau bahasa, sihir diartikan sebagai sesuatu yang halus dan rumit sebabnya (Mukhtar Ash-Shihah, hal. 208 dan Al-Qamus, hal. 519). Oleh karena itu, waktu sahur terjadi di malam hari karena aktivitas-aktivitas yang dilakukan pada waktu itu tersembunyi.

Adapun secara terminologis (istilah), terjadi perbedaan pendapat di antara ulama dalam mengungkapkan dan mendefinisikan sihir. Di antara mereka ada yang mendefinisikan sihir sebagai jimat-jimat, jampi-jampi, dan buhul-buhul yang berpengaruh pada hati dan badan, yang mengakibatkan sakit, mati, terpisahkannya antara suami dan istri atas izin Allah.

Diantara mereka ada Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Azis Sulaiman Al-Qar’awi dalam kitab Al-Jadid fi Syarah Kitabut Tauhid (hal. 153), Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin di dalam kitab Al-Qaulul Mufid (2/5), dan Asy-Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan dalam kitab At-Tauhid.

Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi mengatakan: “Ketahuilah bahwa sihir tidak akan bisa didefinisikan dengan definisi yang menyeluruh dan lengkap karena terkandung banyak permasalahan. Dan dari sinilah berbeda ungkapan para ulama dalam mendefinisikan dan perselisihan yang jelas.” (Adhwaul Bayan, 4/444)

Namun dari kedua tinjauan ini, sangat jelas bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh dalam kehidupan manusia. Sihir merupakan bentuk perbuatan tersembunyi yang akan memberi pengaruh terhadap badan, pikiran, dan hati seseorang dengan bantuan makhluk halus baik melalui jampi-jampi, ikatan-ikatan buhul yang berakibat merusak badan, pikiran, dan hati seseorang.

Hakekat Sihir

Merupakan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh pada seseorang yang disihir. Keyakinan ini dibangun di atas dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Allah berfirman:
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِيْنُ عَلىَ مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ
“Dan mereka mengikuti apa-apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu yang mengerjakan sihir). Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir), dan mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Al-Baqarah: 102)
قَالُوْا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيْدَانِ أَن يُّخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَ بِطَرِيْقَتِكُمُ الْمُثْلىَ. فَأَجْمِعُوْا كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوْا صَفًّا وَقَدْ أَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنْ اسْتَعْلىَ. قَالُوْا يَا مُوْسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَن نَّكُوْنَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى. قَالَ بَلْ أَلْقُوْا فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى. فَأَوْجَسَ فَيْ نَفْسِهِ خِيْفَةً مُوْسَى. قُلْنَا لاَ تَخْفْ إِنَّكَ أَنْتَ اْلأَعْلىَ. وَأَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْا إِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلاَ يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى.
“Mereka berkata: Sesungguhnya dua orang ini (Musa dan Harun) adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, serta hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama. Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kalian kemudian datanglah dengan berbaris dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menang pada hari ini. Setelah mereka berkumpul, mereka berkata: Hai Musa, (pilihlah) apakah kamu yang melempar dahulu atau kamilah yang mula-mula melemparkan? Musa berkata: Silakan kalian melemparkan. Maka tiba-tiba tali dan tongkat mereka terbayang kepada Musa seakan-akan dia merayap dengan cepat lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami (Allah) berkata: Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya dia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka) dan tidak akan menang tukang sihir itu dari mana saja dia datang.” (Thaha: 63-69)
فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوْا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوْهُمْ وَجَاءَ بِسِحْرٍ عَظِيْمٍ
“Maka tatkala melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut serta mereka mendatangkan sihir yang besar.” (Al-A’raf: 116). Masih banyak ayat-ayat lain yang menjelaskan hakikat sihir tersebut.

Adapun dalil dari As Sunnah adalah sebagai berikut. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاَتِ الْمُؤْمِنَاتِ
“Jauhilah tujuh perkara yang akan membinasakan.” Para shahabat bertanya: “Apa itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa tanpa alasan yang haq, makan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh orang-orang yang beriman yang menjaga diri dari lalai.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Masih banyak dalil lain yang menunjukkan bahwa sihir memiliki hakikat dan pengaruh.
Hafidz bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah mengatakan: “Sihir adalah sesuatu yang benar-benar ada dan pengaruhnya tidak terlepas dari takdir Allah sebagaimana Allah berfirman: Mereka belajar dari keduanya perkara yang akan memecah belah hubungan suami istri dan mereka tidak akan bisa berbuat mudharat kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Dan pengaruhnya ada sebagaimana dalam hadits-hadits yang shahih.” (I’lam As Sunnah Al-Mansyurah hal. 153)

Musthafa Abu Nashr Asy-Syabli dalam ta’liqnya terhadap kitab di atas mengatakan: “Pengaruh sihir itu ada, dan tidak ada yang mengingkari kecuali orang yang sombong atau mengingkari apa yang diturunkan kepada Rasulullah. Beliau sebagai sebaik-baik manusia dan sayyid anak Adam pernah terkena sihir seorang Yahudi dari Bani Zuraiq yang bernama Labid bin Al-A’sham dan beliau terus dalam sihir tersebut selama 6 bulan.”

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (10/226) mengatakan: “Al-Maziri berkata: Sebagian ahli bidah mengingkari sihir yang menimpa Rasulullah ini. Mereka menyangka bahwa hal ini akan menjatuhkan kedudukan nubuwwah dan akan memberi keraguan. Mereka berkata: Siapa saja yang berkata demikian maka itu adalah pengakuan batil.”

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan mengatakan: “Dinamakan sihir karena terjadi dengan perkara yang sangat tersembunyi yang tidak akan bisa dilihat oleh mata. Yaitu berbentuk jimat-jimat, jampi-jampi, pembicaraan-pembicaraan, atau melalui asap-asap. Sihir memiliki hakikat dan di antaranya berpengaruh terhadap hati dan badan sehingga bisa menyebabkan sakit, terbunuh, dan memisahkan antara suami istri.” (At-Tauhid, hal. 21)

Abu Muhammad Al-Maqdisi di dalam kitab Al-Kafi (3/164) mengatakan: “Sihir adalah jimat-jimat, jampi-jampi dan ikatan-ikatan buhul yang berpengaruh pada hati dan badan yang akhirnya menyebabkan sakit dan mati dan juga akan memisahkan antara suami istri. Allah berfirman: Lalu mereka belajar dari keduanya (Harut dan Marut) sesuatu yang akan bisa memisahkan antara seorang suami dengan istrinya. Allah juga berfirman: “Dan kejahatan wanita-wanita yang meniupkan buhul-buhul.” Yaitu tukang-tukang sihir dari kaum wanita yang mereka mengikat buhul-buhul dalam sihirnya lalu menjampinya. Jika sihir itu tidak ada hakikatnya, niscaya Allah tidak menyuruh untuk berlindung darinya.”

Hukum Mempelajari Sihir

Para ulama berselisih pendapat mengenai hukum mempelajari sihir ini.
Pendapat pertama, Al-Imam Malik berkata bahwa belajar sihir atau mengajarkannya menyebabkan pelakunya kafir meskipun dia tidak menggunakannya. Karena, pada sihir terdapat unsur pengagungan terhadap setan dan mengaitkan semua kejadian yang ada di alam ini kepada mereka. Dan tidak akan dikatakan oleh orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir bahwa mereka tidak kafir.
Pernyataan ini juga diucapkan oleh Al-Imam Ahmad dalam riwayat darinya yang lebih masyhur dinukil dari shahabat ‘Ali radhiallahu anhu dan dikuatkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni.

Pendapat kedua, adalah pendapat Al-Hanafiyyah. Mereka merinci hal yang demikian. Apabila mempelajari sihir agar dia terjaga darinya, maka dia tidak kafir. Bila dia mempelajarinya dengan keyakinan bahwa dibolehkan atau akan memberi manfaat baginya, maka ini adalah kufur. Yang berpendapat demikian juga adalah Asy-Syafi’i dan mayoritas pengikut beliau, serta dikuatkan oleh Al-Qurafi, Asy-Syinqithi, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar. (Al-Fath, 10/224 dan Adhwaul Bayan, 4/44)

Pendapat ketiga, belajar sihir tidak kafir. Ini merupakan salah satu pendapat Al-Imam Ahmad yang tidak kuat, dan dicela pendapat ini oleh Ibnu Hazm. (Lihat Fathul Bari, 10/224, Adhwaul Bayan, 4/44, Tafsir Ibnu Katsir, 1/128, Tafsir Al-Qurthubi, 2/43, Fathul Qadir, 1/151, dan Tafsir As-Sa’di, hal. 42)
Ash-Shan’ani dalam kitab Tath-hir Al-I’tiqad (hal. 44) mengatakan: “Belajar ilmu sihir bukan perkara yang sulit, bahkan pintunya yang paling besar adalah kufur kepada Allah dan menghinakan apa-apa yang diagungkan oleh Allah seperti meletakkan mushaf di WC dan sebagainya.”

Sihir Dalam Pandangan Agama

Ibnu ‘Allan dalam kitab Dalil Falihin (8/284) mengatakan: “Sihir adalah hal-hal di luar kebiasaan yang terjadi melalui ucapan-ucapan dan perbuatan dan mungkin untuk dilawan dengan yang sepertinya. Dan sihir itu adalah haram termasuk dari dosa besar.”
Allah berfirman:
وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنْ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ
“Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akherat.” (Al-Baqarah: 102)

Abdurrahman bin Hasan Alusy-Syaikh mengatakan: “Ayat ini menunjukkan atas haramnya sihir dan juga haram dalam agama suluruh para rasul sebagaimana firman Allah: Dan tidak akan beruntung tukang sihir dari mana saja dia datang. (Thaha: 69)
Pengikut Imam Ahmad telah menjelaskan tentang kafirnya belajar sihir dan mengajarkannya.” (Fathul Majid, hal. 336)
Asy-Syaikh Shalih Fauzan dalam ta’liq beliau terhadap kitab Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah mengatakan: “Sihir adalah satu bentuk perbuatan setan dan termasuk dari kekufuran kepada Allah, maka janganlah kamu tertipu dengan mereka.”

Ibnu Abil ‘Izzi dalam syarah beliau terhadap kitab Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah (hal. 505) mengatakan: “Para ulama telah sepakat bahwa jika sihir itu dalam bentuk meminta kepada bintang yang tujuh atau selainnya, mengajak berbicara atau sujud kepadanya, dan mendekatkan diri kepadanya baik dengan bentuk pakaian, atau cincin, asap-asap, sesajen, atau yang sejenisnya, maka ini termasuk jenis kekufuran dan pintu kesyirikan yang paling besar. Oleh karena itu wajib ditutup.”

As-Sa’di dalam Tafsir beliau mengatakan: “Jangan kamu belajar sihir karena yang demikian itu termasuk dari kekufuran.” (hal. 44)
Dari semua ucapan para ulama tersebut terambil dari dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana dalam firman Allah:
وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُوْلاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ
“Tidaklah keduanya mengajarkan sesuatu kepada seorang pun melainkan keduanya mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, maka janganlah kamu kafir.” (Al-Baqarah: 102)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan: “Dari sini sangat jelas bahwa seseorang tidak mungkin mempelajari sihir melainkan dia harus kafir. Dan bila dia telah kafir maka dia akan mempelajarinya. Berdasarkan ayat ini maka tukang sihir hukumnya adalah kafir.”

Adz-Dzahabi dalam kitab beliau Al-Kabair (hal. 21-22) mengatakan: “Tukang sihir harus dikafirkan berdasarkan firman Allah: “Akan tetapi setan-setan yang kafir dan mengajarkan manusia sihir”. Setan tidak memiliki tujuan dalam mengajarkan manusia ilmu sihir melainkan agar Allah disekutukan. Kamu melihat kebanyakan orang sesat karena masuk dalam ilmu sihir tersebut dan mereka menyangka hanya sebatas haram dan mereka tidak mengira kalau yang demikian itu adalah wujud kekafiran. Hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh karena dia kufur kepada Allah. Hendaklah setiap hamba bertakwa kepada Allah dan jangan sekali-kali dia masuk kepada perkara-perkara yang akan mencelakakan dirinya di dunia dan akhirat. (Al-Qaulul Mufid, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab Al-Yamani, hal. 137)

Adapun dari Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah hadits Abu Hurairah di atas yang dikeluarkan oleh Al-Imam Bukhari dan Al-Imam Muslim: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara penghancur…” di antaranya adalah sihir.

Al-Lajnah Daimah mengatakan: “Diharamkan untuk belajar sihir apakah belajarnya untuk diamalkan atau untuk menjaga diri. Allah telah menjelaskan dalam Al Quran tentang mempelajarinya dalah kekufuran. Allah berfirman: “Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diharamkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut. Sedang keduanya tidak mengajarkan kepada seorang pun melainkan mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan bagi kamu, maka janganlah kafir”. Sungguh Rasulullah telah menjelaskan bahwa sihir adalah salah satu dari dosa-dosa besar dan memerintahkan agar menjauhinya dengan sabdanya: “Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang akan menghancurkan…”, kemudian beliau menyebutkan di antaranya: “Sihir.” Dan di dalam As-Sunan di sisi An-Nasa’i disebutkan: “Barangsiapa yang mengikat buhul lalu meniupkan padanya, maka sungguh dia telah melakukan sihir. Dan barangsiapa yang telah melakukan sihir maka sungguh dia telah melakukan kesyirikan.” (Fatawa Al-Lajnah, 1/367/368)

Hukuman Bagi Tukang Sihir

Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama apakah tukang sihir itu dihukumi kafir atau tidak. Kemudian, bagaimana dengan hukuman bagi mereka di dunia ini, apakah dibunuh atau tidak.

Jumhur ulama berpendapat bahwa tukang sihir adalah kafir secara mutlak. Di antara mereka adalah Malik, Abu Hanifah, pengikut Al-Imam Ahmad dan selain mereka. (Adhwaul Bayan, 4/455)

Diantara mereka ada yang mengatakan perlu dirinci, yaitu apabila di dalam sihir tersebut terkandung pengagungan terhadap selain Allah seperti bintang-bintang, jiwa-jiwa dan selainnya yang akan bisa mengantarkan kepada kekafiran, maka pelaku sihir tersebut adalah kafir tanpa ada perselisihan. Apabila sihir itu tidak mengandung kekufuran seperti menggunakan benda-benda tertentu seperti minyak dan selainnya maka ini adalah haram dengan keharaman yang keras dan pelakunya tidak bisa dikatakan kafir. (Adhwaul Bayan, 4/456)

Pendapat kedua ini yang dikuatkan oleh Asy-Syinqithi dalam kitab Adhwaul Bayan (4/456) dengan menyatakan: “Inilah yang benar insya Allah dari perbedaan-perbedaan para ulama tersebut.” Dan ini pula yang dirajihkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin dalam kitab Al-Qaulul Mufid (2/6).

Diantara para ulama ada yang menggabungkan kedua pendapat tersebut seperti yang dilakukan oleh Asy-Syaikh Sulaiman dalam kitab Taisir Al-’Azizil Hamid (hal. 384): “Sebenarnya kedua pernyataan tersebut tidaklah berbeda. Adapun yang menyatakan tidak kafir dia menyangka bahwa sihir itu terjadi tanpa ada unsur kesyirikan. Padahal tidak demikian, bahkan sihir yang datang dari sisi setan tidak lepas dari kesyirikan dan penyembahan kepada setan.

Oleh karena itulah Allah mengkafirkan mereka dengan firman-Nya: “Sesungguhnya kami adalah cobaan, maka janganlah kamu kafir”. Adapun sihir yang berasal dari obat-obatan atau asap-asap maka ini bukan sihir. Dinamakan sihir majaz sebagaimana penamaan ucapan yang memukau dan namimah (mengadu domba) sihir, akan tetapi hal yang demikian ini haram karena mengandung mudharat dan pelakunya harus diberi pelajaran.” (lihat Syarah Nawaqidhul Islam, hal. 26)

Setelah kita mengetahui hukum dalam pandangan agama terhadap tukang sihir atau yang melakukannya kafir atau disebut sebagai pelaku maksiat, lalu bagaimana hukuman di dunia, harus dibunuh atau tidak?
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan: Ibnu Hubairah berkata: “Apakah dibunuh orang yang hanya melakukan perbuatan sihir atau tidak?” Malik dan Ahmad menyatakan ya (dibunuh), Asy-Syafi’i dan Abu Hanifah mengatakan tidak. Adapun apabila dia membunuh seseorang dengan sihirnya maka dia harus dibunuh menurut pendapat Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad.

Telah ada riwayat dari ulama salaf yang membunuh pelaku sihir. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih beliau dari Bajalah bin ‘Abdah, berkata ‘Umar bin Al-Khaththab: “…agar membunuh para tukang sihir.” Maka kami membunuh tiga tukang sihir.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahab dalam Kitab At-Tauhid berkata: “Telah shahih dari Hafshah bahwa beliau memerintahkan untuk membunuh budak yang menyihirnya.” Dan telah shahih pula dari Jundub radhiallahu anhu.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam Fathul Majid (hal. 343) berkata: “Diriwayatkan pula yang mengatakan (tukang sihir harus dibunuh) dari ‘Umar, ‘Utsman, Ibnu ‘Umar, Hafshah, Jundub bin Abdullah, Jundub bin Ka’ab, Qais bin Sa’d, dan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz.”
Adapun Asy-Syafi’i tidak berpendapat dibunuh hanya sekedar menyihir kecuali apabila di dalam sihirnya itu telah sampai pada tingkat kufur. Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnul Mundzir dan sebuah riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat pertama lebih kuat berdasar hadit dari Anas dari Ibnu Umar dan orang-orang melakukan di masa pemerintahan beliau dan beliau tidak mengingkarinya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (29/384) berkata: “Sungguh telah diketahui bahwa sihir adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’ umat. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa tukang sihir adalah kafir dan telah shahih dari ‘Umar bin Al-Khaththab tentang harusnya dibunuh dan juga dari ‘Utsman bin ‘Affan, Hafshah bintu ‘Umar, Abdullah bin ‘Umar, dan dari Jundub bin Abdillah dan telah diriwayatkan secara marfu’ (sampai sanadnya kepada Rasulullah).”

Dari semua pendapat para ulama ini, jelas bahwa sihir merupakan sesuatu yang sangat berbahaya baik ditinjau dari sisi dunia maupun akherat. Oleh karena itu, telah shahih riwayat dari ulama salaf tentang keharusan membunuh mereka. Lalu apakah dibunuh mereka sebagai hukuman peringatan atau karena murtad?

Sepakat para ulama, kalau sihirnya itu sampai kepada batas kekufuran dan syirik, maka dibunuhnya adalah sebagai hukuman murtad. Dan terjadi perbedaan pendapat apabila sihirnya itu tidak sampai pada tingkatan kufur. Di antara mereka dibunuh sebagai hukuman (had) dan ada yang mengatakan dia dibunuh sebagai satu bentuk peringatan baginya dan orang lain.
Muhammad bin Amin Asy-Syinqithi dalam kitab Adhwaul Bayan (4/463) berkata: “Yang benar di sisiku adalah bahwa penyihir yang sihirnya belum sampai ke tingkat kufur dan dia tidak membunuh dengan sihirnya itu, maka dia tidak boleh dibunuh berdasarkan dalil-dalil yang qath’i (kuat) dan ijma’ atas terpeliharanya darah orang-orang Islam secara umum kecuali apabila datang dalil yang jelas. Membunuh tukang sihir yang belum sampai pada tingkatan kufur dengan sihirnya, tidak ada yang shahih dari Rasulullah. Dan menumpahkan darah seorang muslim tanpa ada dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih, belum jelas pembolehannya di sisiku.”

Dan ilmunya di sisi Allah, bersamaan dengan itu yang mengatakan harus dibunuh secara mutlak merupakan pendapat yang kuat sekali berdasarkan perbuatan para shahabat tanpa ada pengingkaran.

Apakah mereka harus dimintai taubat ataukah langsung dibunuh? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dan pendapat yang kuat berdasarkan tarjih Asy-Syinqithi dalam Adhwaul Bayan: “Kalau dia bertaubat maka taubatnya diterima, karena sihir tidak lebih besar daripada dosa syirik dan Allah menerima taubat tukang sihir Fir’aun dan menjadikan ketika itu sebagai walinya.” (lihat Syarah Nawaqidhul Islam, hal. 28)
Wallahu a’lam.

→ 1 CommentKategori: Agama

As-Sunnah Dan Bid’ah

Juni 21, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sunnah dengan makna apa-apa yang disyari’atkan oleh Rasul-Nya adalah lawan dari bid’ah, yakni apa-apa yang baru yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Mafhum Ahlis Sunnah, hal 32, 35]

Bid’ah menurut bahasa ialah segala perkara yang baru diada-adakan. Kata Imam Asy-Syaatibi : “Lafadz bid’ah pada dasarnya bermakna apa saja yang belum ada contohnya”.

Diantara kata bid’ah yang dinamakan demikian, ialah kata bid’ah yang terdapat dalam firman Allah sebagai berikut.

“Badiiu ats-tsamawaati wal ardhi” [Al-Baqarah : 17]
“Artinya : Allah Pencipta langit dan bumi”.

Maksudnya badiiu’ disini ialah Allah yang mengadakan atau menciptakan langit dan bumi dengan bentuk yang belum ada contohnya.

Juga dalam firman-Nya lagi.

“Qul ma kuntu bid’an minar-arutsuli” [ Al-Ahqaaf :9]
“Artinya : Kataknlah : Aku bukanlah rasul yang baru (bid’ah) pertama di antara rasul-rasul”

Maksud bi’an disini ialah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang rasul yang pertama membawa risalah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, bahkan telah ada rasul-rasul yang mendahuluinya. Apabila dikatakan bahwa si Fulan telah membuat satu bid’ah, maka artiya si Fulan telah mengadakan suatu jalan (cara) yang belum pernah ada orang yang melakukannya selain dia.

Bid’ah menurut syari’at ialah apa-apa yang diadakan oleh manusia baik perkataan maupun perbuatan di dalam agama dan syiar-syiarnya tidak ada keterangan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yang mana maksud mengerjakannya adalah untuk ta’abbud.

“Artinya : Aisyah berkata. ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa yang mengada-adakan suatu perbuatan dalam agama kita ini, yang sama sekali tidak ada sumbernya, maka perbuatan itu ditolak”. [Hadits Riwayat Bukhari 2/166, Muslim 5/132, Abu Daud 4606, Ibnu Majah 14, Baihaqi 10/119]

Dan sabdanya lagi.

“Aisyah berkata. ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka amalan itu tertolak”. [Hadist Riwayat Muslim].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika mendenifisikan bid’ah, ia berkata. “Bid’ah itu apa-apa yang menyalahi Kitabullah, As-Sunnah, dan Ijma’ Salafus Shalih baik masalah-masalah aqidah maupun masalah-masalah ibadah, seperti perkataan orang-orang Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jahmiyah, dan juga orang-orang yang beribadah sambil menari-nari dan bernyanyi di masjid-masjid”.

Jadi, terkadang As-Sunnah dimaksudkan lawan dari bid’ah. Misalnya bila dikatakan si Fulan mengikuti sunnah, artinya si Fulan beramal menurut apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Namun bila dikatakan si fulan berbuat bid’ah, artinya si Fulan beramal menyalahi apa-apa yang diamalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

As-Sunnah yang dimaksud dalam bahasan ini ialah arti sunnah menurut pengertian ulama Ushul, karena pengertian inilah yang digunakan dalam pembahasan dalil-dalil pokok, kedudukannya dalam pembinaan hukum, dan perbuatan hukum syara’. Kendatipun demikian dalam analisa historis akan di ketengahkan pula pengertian secara umum sebagaimana yang dipergunakan ahli Hadits.

→ Leave a CommentKategori: Agama
Tagged: , , , , , , ,

Allahuakhbar!!!!!! Tahukah Anda????? Ternyata Islam Masuk ke Indonesia Saat Rasulullah SAW Masih Hidup

Juni 17, 2009 · 2 Komentar

Islam masuk ke Nusantara dibawa para pedagang dari Gujarat, India, di abad ke 14 Masehi. Teori masuknya Islam ke Nusantara dari Gujarat ini disebut juga sebagai Teori Gujarat. Demikian menurut buku-buku sejarah yang sampai sekarang masih menjadi buku pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas, bahkan di beberapa perguruan tinggi.

Namun, tahukah Anda bahwa Teori Gujarat ini berasal dari seorang orientalis asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam?

Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje, yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dengan sangat giat, mengaku sebagai seorang Muslim, dan bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya.

Menurut sejumlah pakar sejarah dan juga arkeolog, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, telah terjadi kontak dagang antara para pedagang Cina, Nusantara, dan Arab. Jalur perdagangan selatan ini sudah ramai saat itu.

Mengutip buku Gerilya Salib di Serambi Makkah (Rizki Ridyasmara, Pustaka Alkautsar, 2006) yang banyak memaparkan bukti-bukti sejarah soal masuknya Islam di Nusantara, Peter Bellwood, Reader in Archaeology di Australia National University, telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.

Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima masehi, yang berarti Nabi Muhammad SAW belum lahir, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Cina. Temuan beberapa tembikar Cina serta benda-benda perunggu dari zaman Dinasti Han dan zaman-zaman sesudahnya di selatan Sumatera dan di Jawa Timur membuktikan hal ini.

Dalam catatan kakinya Bellwood menulis, “Museum Nasional di Jakarta memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu, banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London. Benda-benda ini dilaporkan berasal dari kuburan di Lumajang, Jawa Timur, yang sudah sering dijarah…” Bellwood dengan ini hendak menyatakan bahwa sebelum tahun 221 SM, para pedagang pribumi diketahui telah melakukan hubungan dagang dengan para pedagang dari Cina.

Masih menurutnya, perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang, tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967; Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai catatannya.

Di Jawa, masa sebelum masehi juga tidak ada catatan tertulisnya. Pangeran Aji Saka sendiri baru “diketahui” memulai sistem penulisan huruf Jawi kuno berdasarkan pada tipologi huruf Hindustan pada masa antara 0 sampai 100 Masehi. Dalam periode ini di Kalimantan telah berdiri Kerajaan Hindu Kutai dan Kerajaan Langasuka di Kedah, Malaya. Tarumanegara di Jawa Barat baru berdiri tahun 400-an Masehi. Di Sumatera, agama Budha baru menyebar pada tahun 425 Masehi dan mencapai kejayaan pada masa Kerajaan Sriwijaya.

Temuan G. R Tibbets

Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G. R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara negeri Arab dengan Nusantara saat itu.

“Keadaan ini terjadi karena kepulauan Nusantara telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina sejak abad kelima Masehi, ” tulis Tibbets. Jadi peta perdagangan saat itu terutama di selatan adalah Arab-Nusantara-China.

Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya.

Di perkampungan-perkampungan ini, orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi dengan jalan menikahi perempuan-perempuan lokal secara damai. Mereka sudah beranak–pinak di sana. Dari perkampungan-perkampungan ini mulai didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an dan pengajaran tentang Islam sebagai cikal bakal madrasah dan pesantren, umumnya juga merupakan tempat beribadah (masjid).

Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.

Pembalseman Firaun Ramses II Pakai Kapur Barus Dari Indonesia

Dari berbagai literatur, diyakini bahwa kampung Islam di daerah pesisir Barat Pulau Sumatera itu bernama Barus atau yang juga disebut Fansur. Kampung kecil ini merupakan sebuah kampung kuno yang berada di antara kota Singkil dan Sibolga, sekitar 414 kilometer selatan Medan. Di zaman Sriwijaya, kota Barus masuk dalam wilayahnya. Namun ketika Sriwijaya mengalami kemunduran dan digantikan oleh Kerajaan Aceh Darussalam, Barus pun masuk dalam wilayah Aceh.

Amat mungkin Barus merupakan kota tertua di Indonesia mengingat dari seluruh kota di Nusantara, hanya Barus yang namanya sudah disebut-sebut sejak awal Masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus.

Bahkan dikisahkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum Masehi!

Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi. Ini memperkuat dugaan bahwa komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi, Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan sebagainya.

Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah makmur.

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab, Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam. Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam. Tentunya dengan jalan damai (Rz/eramuslim)

Sejarahwan T. W. Arnold dalam karyanya “The Preaching of Islam” (1968) juga menguatkan temuan bahwa agama Islam telah dibawa oleh mubaligh-mubaligh Islam asal jazirah Arab ke Nusantara sejak awal abad ke-7 M.

Setelah abad ke-7 M, Islam mulai berkembang di kawasan ini, misal, menurut laporan sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali (Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di Nusantara (F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries, St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159).

Bukti lainnya, di daerah Leran, Gresik, Jawa Timur, sebuah batu nisan kepunyaan seorang Muslimah bernama Fatimah binti Maimun bertanggal tahun 1082 telah ditemukan. Penemuan ini membuktikan bahwa Islam telah merambah Jawa Timur di abad ke-11 M (S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39).

Dari bukti-bukti di atas, dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara pada masa Rasulullah masih hidup. Secara ringkas dapat dipaparkan sebagai berikut: Rasululah menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab.

Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 M telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Rasulullah SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam.

Selaras dengan zamannya, saat itu umat Islam belum memiliki mushaf Al-Qur’an, karena mushaf Al-Qur’an baru selesai dibukukan pada zaman Khalif Utsman bin Affan pada tahun 30 H atau 651 M. Naskah Qur’an pertama kali hanya dibuat tujuh buah yang kemudian oleh Khalif Utsman dikirim ke pusat-pusat kekuasaan kaum Muslimin yang dipandang penting yakni (1) Makkah, (2) Damaskus, (3) San’a di Yaman, (4) Bahrain, (5) Basrah, (6) Kuffah, dan (7) yang terakhir dipegang sendiri oleh Khalif Utsman.

Naskah Qur’an yang tujuh itu dibubuhi cap kekhalifahan dan menjadi dasar bagi semua pihak yang berkeinginan menulis ulang. Naskah-naskah tua dari zaman Khalifah Utsman bin Affan itu masih bisa dijumpai dan tersimpan pada berbagai museum dunia. Sebuah di antaranya tersimpan pada Museum di Tashkent, Asia Tengah.

Mengingat bekas-bekas darah pada lembaran-lembaran naskah tua itu maka pihak-pihak kepurbakalaan memastikan bahwa naskah Qur’an itu merupakan al-Mushaf yang tengah dibaca Khalif Utsman sewaktu mendadak kaum perusuh di Ibukota menyerbu gedung kediamannya dan membunuh sang Khalifah.

Perjanjian Versailes (Versailes Treaty), yaitu perjanjian damai yang diikat pihak Sekutu dengan Jerman pada akhir Perang Dunia I, di dalam pasal 246 mencantumkan sebuah ketentuan mengenai naskah tua peninggalan Khalifah Ustman bin Affan itu yang berbunyi: (246) Di dalam tempo enam bulan sesudah Perjanjian sekarang ini memperoleh kekuatannya, pihak Jerman menyerahkan kepada Yang Mulia Raja Hejaz naskah asli Al-Qur’an dari masa Khalif Utsman, yang diangkut dari Madinah oleh pembesar-pembesar Turki, dan menurut keterangan, telah dihadiahkan kepada bekas Kaisar William II (Joesoef Sou’yb, Sejarah Khulafaur Rasyidin, Bulan Bintang, cet. 1, 1979, hal. 390-391).

Sebab itu, cara berdoa dan beribadah lainnya pada saat itu diyakini berdasarkan ingatan para pedagang Arab Islam yang juga termasuk para al-Huffadz atau penghapal al-Qur’an.

Menengok catatan sejarah, pada seperempat abad ke-7 M, kerajaan Budha Sriwijaya tengah berkuasa atas Sumatera. Untuk bisa mendirikan sebuah perkampungan yang berbeda dari agama resmi kerajaan—perkampungan Arab Islam—tentu membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum diizinkan penguasa atau raja. Harus bersosialisasi dengan baik dulu kepada penguasa, hingga akrab dan dipercaya oleh kalangan kerajaan maupun rakyat sekitar, menambah populasi Muslim di wilayah yang sama yang berarti para pedagang Arab ini melakukan pembauran dengan jalan menikahi perempuan-perempuan pribumi dan memiliki anak, setelah semua syarat itu terpenuhi baru mereka—para pedagang Arab Islam ini—bisa mendirikan sebuah kampung di mana nilai-nilai Islam bisa hidup di bawah kekuasaan kerajaan Budha Sriwijaya.

Perjalanan dari Sumatera sampai ke Makkah pada abad itu, dengan mempergunakan kapal laut dan transit dulu di Tanjung Comorin, India, konon memakan waktu dua setengah sampai hampir tiga tahun. Jika tahun 625 dikurangi 2, 5 tahun, maka yang didapat adalah tahun 622 Masehi lebih enam bulan. Untuk melengkapi semua syarat mendirikan sebuah perkampungan Islam seperti yang telah disinggung di atas, setidaknya memerlukan waktu selama 5 hingga 10 tahun.

Jika ini yang terjadi, maka sesungguhnya para pedagang Arab yang mula-mula membawa Islam masuk ke Nusantara adalah orang-orang Arab Islam generasi pertama para shahabat Rasulullah, segenerasi dengan Ali bin Abi Thalib r. A..

Kenyataan inilah yang membuat sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara sangat yakin bahwa Islam masuk ke Nusantara pada saat Rasulullah masih hidup di Makkah dan Madinah. Bahkan Mansyur Suryanegara lebih berani lagi dengan menegaskan bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, saat masih memimpin kabilah dagang kepunyaan Khadijah ke Syam dan dikenal sebagai seorang pemuda Arab yang berasal dari keluarga bangsawan Quraisy yang jujur, rendah hati, amanah, kuat, dan cerdas, di sinilah ia bertemu dengan para pedagang dari Nusantara yang juga telah menjangkau negeri Syam untuk berniaga.

“Sebab itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasul dan mendakwahkan Islam, maka para pedagang di Nusantara sudah mengenal beliau dengan baik dan dengan cepat dan tangan terbuka menerima dakwah beliau itu,” ujar Mansyur yakin.

Dalam literatur kuno asal Tiongkok tersebut, orang-orang Arab disebut sebagai orang-orang Ta Shih, sedang Amirul Mukminin disebut sebagai Tan mi mo ni’. Disebutkan bahwa duta Tan mi mo ni’, utusan Khalifah, telah hadir di Nusantara pada tahun 651 Masehi atau 31 Hijriah dan menceritakan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dengan telah tiga kali berganti kepemimpinan. Dengan demikian, duta Muslim itu datang ke Nusantara di perkampungan Islam di pesisir pantai Sumatera pada saat kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan (644-656 M). Hanya berselang duapuluh tahun setelah Rasulullah SAW wafat (632 M).

Catatan-catatan kuno itu juga memaparkan bahwa para peziarah Budha dari Cina sering menumpang kapal-kapal ekspedisi milik orang-orang Arab sejak menjelang abad ke-7 Masehi untuk mengunjungi India dengan singgah di Malaka yang menjadi wilayah kerajaan Budha Sriwijaya.

Gujarat Sekadar Tempat Singgah

Jelas, Islam di Nusantara termasuk generasi Islam pertama. Inilah yang oleh banyak sejarawan dikenal sebagai Teori Makkah. Jadi Islam di Nusantara ini sebenarnya bukan berasal dari para pedagang India (Gujarat) atau yang dikenal sebagai Teori Gujarat yang berasal dari Snouck Hurgronje, karena para pedagang yang datang dari India, mereka ini sebenarnya berasal dari Jazirah Arab, lalu dalam perjalanan melayari lautan menuju Sumatera (Kutaraja atau Banda Aceh sekarang ini) mereka singgah dulu di India yang daratannya merupakan sebuah tanjung besar (Tanjung Comorin) yang menjorok ke tengah Samudera Hindia dan nyaris tepat berada di tengah antara Jazirah Arab dengan Sumatera.

Bukalah atlas Asia Selatan, kita akan bisa memahami mengapa para pedagang dari Jazirah Arab menjadikan India sebagai tempat transit yang sangat strategis sebelum meneruskan perjalanan ke Sumatera maupun yang meneruskan ekspedisi ke Kanton di Cina. Setelah singgah di India beberapa lama, pedagang Arab ini terus berlayar ke Banda Aceh, Barus, terus menyusuri pesisir Barat Sumatera, atau juga ada yang ke Malaka dan terus ke berbagai pusat-pusat perdagangan di daerah ini hingga pusat Kerajaan Budha Sriwijaya di selatan Sumatera (sekitar Palembang), lalu mereka ada pula yang melanjutkan ekspedisi ke Cina atau Jawa.

Disebabkan letaknya yang sangat strategis, selain Barus, Banda Aceh ini telah dikenal sejak zaman dahulu. Rute pelayaran perniagaan dari Makkah dan India menuju Malaka, pertama-tama diyakini bersinggungan dahulu dengan Banda Aceh, baru menyusuri pesisir barat Sumatera menuju Barus. Dengan demikian, bukan hal yang aneh jika Banda Aceh inilah yang pertama kali disinari cahaya Islam yang dibawa oleh para pedagang Arab. Sebab itu, Banda Aceh sampai sekarang dikenal dengan sebutan Serambi Makkah.(Rz, Tamat/eramuslim)

→ 2 CommentsKategori: Agama
Tagged: , , ,

Mengapa Shalat Menghadap Ka’bah, Padahal Cuma Batu ?

Juni 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,
Sejak dahulu sebelum Rasulullah SAW dilahirkan, sudah ada berhala yang jumlahnya mencapi 360 buah di sekeliling ka’bah. Namun tak satu pun dari orang Arab di masa jahiliyahnya yang menyembah ka’bah. Mereka hanya menyembah berhala yang terbuat dari batu yang mereka bawa dari bermacam pengaruh budaya paganisme di negeri sekitarnya seperti Romawi, Persia, Habasyah, Mesir dan lainnya.

Tapi tidak pernah kita dapati dalam kepercayaan jahiliyah di masa itu bahwa mereka menyembah ka’bah. Dan orientalis yang menuduh orang Arab pra-Islam sebagai penyembah ka’bah, berarti ilmunya masih dangkal.

Kalau orang arab jahiliyah yang penyembah berhala saja tidak menyembah ka’bah, bagaimana mungkin Rasulullah SAW mengajarkan untuk menyembah ka’bah ? Padahal pertentangan utama antara Rasulullah SAW dan pemuka musyrikin Mekkah itu adalah pada masalah tidak mau menyembah kecuali kepada Allah SWT . Bagaimana mungkin Rasulullah SAW memerintahkan ummatnya untuk menyembah ka’bah ?

Karena semua orang termasuk arab jahiliyah yang kerjanya menyembah patung tahu bahwa ka’bah itu bukan tuhan, juga bukan perantara untuk menyampaikan dosa kepada tuhan. Tetapi ka’bah adalah rumah ibadah, dimana pusat ibadah itu adanya di ka’bah. Setiap tahun orang-orang Arab telah mengunjungi ka’bah untuk melakukan manasik ibadah mereka. Bukan untuk menyembah ka’bah tetapi sebagai pusat ibadah.

Dimasa Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi, disyariatkanlah ibadah shalat dengan ketentuan harus menghadap ke arah ka’bah. Dan hal itu bukanlah menyembah ka’bah. Keduanya adalah hal yang jauh berbeda.

Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Al Kitab memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(QS.Al-Baqarah : 144)

Dan dari mana saja kamu keluar , maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. .(QS.Al-Baqarah : 149)

Dan dari mana saja kamu , maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku . Dan agar Ku-sempurnakan ni’mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.(QS.Al-Baqarah : 150)

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

→ Leave a CommentKategori: Agama